Suara.com - Usai mengonsultasikan keluhan penyakit ke dokter, maka biasanya pasien akan diberi resep obat oleh dokter. Tak sedikit pasien yang menerima begitu saja hasil resepnya, karena mempercayai apa yang dilakukan dokter kepadanya.
Padahal, menurut Dirjen Bina Farmasi & Alat Kesehatan, Dra Maura Linda Sitanggang Apt PhD, pasien memiliki hak untuk mendapatkan informasi mengenai obat yang diresepkan kepadanya. Hal ini untuk menghindari risiko yang tidak diharapkan dari obat yang dikonsumsi.
"Konsumen harus cerdas menggunakan obat, harus kritis. Manfaatkan informasi yang tertera di obat. Atau kalau kurang jelas, tanyakan kepada tenaga kesehatan seperti apoteker," ujar Maura, dalam acara temu media "Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat" di Jakarta, baru-baru ini.
Anjuran agar pasien lebih cerdas sebagai konsumen itu dilatarbelakangi oleh maraknya kasus resistensi antibiotik belakangan ini. Data Riskesdas 2013 menyebut bahwa 27,8 persen rumah tangga menyimpan antibiotik cadangan di rumah. Padahal, antibiotik merupakan jenis obat yang harus dikonsumsi hingga habis dan tidak bebas diperjualbelikan.
"Resistensi antibiotik ini salah satunya disebabkan oleh pemahaman masyarakat yang kurang mengenai obat-obatan. Ketika diberi resep oleh dokter juga tidak menanyakan lebih detil. Kalau sudah merasa sembuh, obat lalu tidak dihabiskan, akibatnya memicu resistensi," imbuhnya.
Maura juga tidak menampik bahwa penyebab resistensi antibiotik terbesar juga dipengaruhi oleh dokter. Menurutnya, banyak dokter yang meresepkan antibiotik pada kasus yang sepele seperti flu dan diare.
Oleh karena itu, untuk menekan kasus resistensi antibiotik, Maura mengharapkan kontribusi masyarakat untuk lebih kritis saat menerima resep obat.
"Ketika menebus obat, harus ditanya terlebih dahulu, obat yang dituliskan berguna untuk apa. Kalau membeli obat sendiri, baca indikasinya, kandungan obat, jenis obat, kontra indikasi, aturan pakai dan sebagainya. Bila perlu, tanya informasi yang jelas dari apoteker," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
Terkini
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?