Suara.com - Seorang bocah penderita tanpa Anus, Junaedi (10) yang bermukim di Dusun Maju Jaya, Desa Pajalele, Kecamatan Tikke Raya, Kabupaten Mamuju Utara, Sulawesi Barat, kini mengharapkan bantuan dari pemerintah untuk meringankan beban biaya pengobatannya.
"Penyakit bawaan sejak lahir anak kami semakin memburuk. Kami tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk kesembuhan putranya," kata ibu kandung korban, Rabiah di Matra, Jumat (25/12/2015).
Menurutnya, kondisi kesehatan putranya semakin turun dan bahkan mulai terlihat kurus dan lemas. Bahkan, nafasnya pun terlihat teramat sesak.
"Derita yang menimpa putra kami sangatlah berat menanggung derita selama 10 tahun tanpa lobang Anus, atau dalam istilah medis disebut penyakit Atresia Ani.
Rabiah mengaku hanya bisa pasrah menerika kenyataan yang menimpa putranya, karena untuk berobat secara medis maka ia tak mampu membayar beban biayanya.
"Saya hanya berfrofesi penjual sayur dan ayahnya hanya bekerja sebagai kulih bangunan dengan penghasilan pas-pasan untuk menutupi biaya hidup keluarganya," kata Rabiah yang kini telah memiliki tujuh anak itu.
Untuk bertahan hidup putranya kata dia, maka dokter yang menanganinya sejak lahir mengeluarkan usus pembuangan makanannya melalui perut bagian atasnya, dibagian ujung usunya diikatkan sebuah kantung plastik agar kotoran yang keluar tidak meluber kemana-kemana.
Upaya operasi pembuatan lobang anus, sudah pernah dilakukan namun belum tuntas karena biaya operasi yang begitu mahal.
Karena itu kata dia, ia sangat mengharapkan bantuan dari pemerintah daerah dan para dermawan guna menuntaskan proses operasi tersebut.
Rabia mengatakan,operasi awal yang dilakukan untuk membuat lobang anus itu juga karena adanya santunan biaya dari para sanak keluarga dan tentangganya.
"Operasi awal dilangsungkan di salah satu rumah sakit di Makassar, Sulsel. Untuk melanjutkan operasi susulan maka biaya yang dibutuhkan tidak sedikit, sebab selain untuk biaya rumah sakit sendiri, juga untuk biaya transportasi serta akomodasi selama berada di Makassar," terangnya dengan mata berkaca-kaca.
Rabia menambahkan bahwa, ia sangat ingin melihat anaknya tersebut hidup normal seperti anak-anak lainnya dan bisa mengecap bangku pendidikan. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- Keunggulan Pompa Air Shimizu PL-138 BIT, Solusi Air Jernih Anti Karat
Pilihan
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
Terkini
-
Dari Kecelakaan Kerja hingga Cedera Kepala, MRI 1.5 Tesla Jadi Senjata Baru Penanganan Trauma
-
Bikin Anak Berani Berekspresi, Isi Libur Sekolah dengan Aktivitas Ini
-
Kenalan dengan HYROX, Fitness Race yang Sedang Digandrungi Komunitas Olahraga
-
Mudah Lelah dan Sesak Napas Bisa Jadi Tanda Kebocoran Katup Jantung
-
World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak
-
Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern
-
Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua
-
Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan
-
Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?