Selasa, 02 Februari 2016 | 03:17 WIB
Seorang ibu di Brasil sedang menggendong puteranya yang lahir dengan kondisi microchephaly. Kelainan ini diyakini disebabkan oleh virus Zika (Reuters/Uesleyi Marcelino).

Suara.com - Organisasi kesehatan dunia (WHO), pada Senin (1/2/2016), mengumumkan status darurat kesehatan publik internasional, setelah virus Zika yang menular lewat gigitan nyamuk dan menyebabkan ribuan bayi terlahir cacat di Brasil, menyebar sangat cepat.

Direktur Jenderal WHO, Margaret Chan, mengatakan bahwa saat ini dibutuhkan sebuah respon internasional yang terkoordinasi untuk mengatasi penyebaran virus Zika.

Ia juga mengatakan langkah untuk membatasi perjalanan atau perdagangan antarnegara belum diperlukan saat ini. Menurut dia, yang terpenting saat ini adalah untuk mengendalikan populasi nyamuk, media penularan utama virus tersebut.

Status darurat internasional itu sendiri direkomendasikan oleh sebuah komite independen kepada WHO, lembaga yang berada di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa, setelah muncul kritik bahwa dunia belum banyak berbuat untuk mencegah penyebaran wabah itu.

Pekan lalu WHO mengatakan bahwa virus Zika menyebar sangat cepat dan bisa menginfeksi empat juta orang di Benua Amerika.

Orang yang terinfeksi virus Zika sendiri, menurut para dokter, hanya akan menunjukkan gejala-gejala yang ringan, tetapi yang berbahaya justru dampaknya terhadap janin. Virus itu diyakini bisa menyebabkan microcephaly, sebuah kelainan yang menyebabkan bayi terlahir dengan ukuran kepala dan otak abnormal.

Selain itu, Zika juga diyakini bisa menyebabkan kelainan syaraf yang disebut sindrom Guillain-Barré.

WHO sendiri baru tiga kali menetapkan status darurat kesehatan publik internasional, sejak Regulasi Kesehatan Internasional disahkan pada 2007. Pertama kali status darurat diumumkan pada 2009, ketika merebak wabah flu burung (H1N1).

Status darurat kedua diumumkan pada Mei 2014, ketika ada indikasi virus polio merebak lagi. Terakhir, status darurat diumumkan pada Agustus 2014, ketika wabah Ebola meledak di Afrika Barat. (The Guardian/Reuters/Vox)

Load More