Suara.com - Pada 2050 diperkirakan angka kejadian resistensi antibiotik dapat mengancam 10 juta jiwa. Menurut Prof. Dr. dr. Kuntaman dari Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA), peningkatan prevalensi resistensi antibiotik dari tahun ke tahun dipicu oleh berbagai faktor.
Pertama, penggunaan antibiotik yang kurang tepat atau 'misused'. Ia menyebut diagnosis yang salah mengenai penyebab suatu penyakit merupakan salah satu contoh penggunaan antibiotik yang tidak pada tempatnya.
"Jadi, sebenarnya pasien hanya mengidap infeksi virus, tapi dokter mendiagnosisnya disebabkan oleh bakteri sehingga yang seharusnya tidak perlu diobati antibiotik justru diberikan antibiotik," ujar Prof Kuntaman pada temu media 'One Health Approach: Strategi Kurangi Maraknya Bakteri Kebal Antibiotik' di Jakarta, Selasa (19/4/206).
Selain itu, penyebab lain dari peningkatan prevalensi resistensi antibiotik, tambah dia, adalah penggunaan yang berlebihan. Banyak pasien yang masih menganggap antibiotik sebagai obat 'dewa' yang bisa menyembuhkan semua penyakit.
"Akibatnya banyak pasien yang menyimpan antibiotik meski tanpa resep dari dokter," imbuhnya.
Sebaliknya, penggunaan antibiotik yang kurang teratur atau tak dihabiskan selama jangka waktu tertentu juga dapat memicu resistensi antibiotik. Menurut Prof Kuntaman, banyak pasien yang merasa gejalanya sudah membaik sehingga tidak mengonsumsi antibiotik sampai habis.
"Semau-maunya pakai antibiotik. Minum obat yang seharusnya dikonsumsi lima hari hanya digunakann empat hari. Jadi, memang mikroba resisten ya karena kesalahan manusianya sendiri," terangnya.
Selain penggunaan antibiotik yang tidak tepat, penyebaran bakteri resisten dari orang lain juga dapat memicu seseorang mengalami resistensi antibiotik. Oleh karena itu, Kuntaman mengimbau agar masyarakat melakukan pola hidup bersih dan sehat seperti mencuci tangan sebelum dan setelah mengerjakan sesuatu.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Banyak Banget, Intip Hampers Tedak Siten Anak Erika Carlina
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
Pilihan
-
Jusuf Kalla Mau Laporkan Rismon Sianipar ke Polisi! Ini Masalahnya
-
Di Balik Lahan Hindoli, Seperti Apa Perkebunan yang Jadi Lokasi 11 Sumur Minyak Ilegal?
-
Traumatik Mendalam Jemaat POUK Tesalonika Tangerang: Kebebasan Beribadah Belum Terjamin?
-
'Ayah, Ayah!' Tangis Histeris Keluarga Pecah saat Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur Tiba di Tanah Air
-
Tragedi Gas Maut di TB Simatupang: 4 Nyawa Melayang dalam Toren, Proyek 8 Lantai Kini Senyap
Terkini
-
17.500 Paket Gizi untuk Masa Depan: Langkah Konkret Melawan Stunting di Bekasi
-
Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Apakah Alat Traksi Leher Aman? Ini Penjelasan Medis dan Cara Menggunakannya
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin