Suara.com - Memperingati Hari Hipertensi Paru Sedunia yang jatuh setiap 5 Mei 2017, sebuah diskusi tentang pengenalan penyakit langka tersebut baru-baru saja di gelar di Jakarta.
Salah satu penderita penyakit hipertensi paru atau hipertensi pulmonal, Dhian Deliani, membagikan kisahnya di hadapan para pewarta.
Dalam kegiatan tersebut, penyelenggara acara membagikan sedotan kepada setiap wartawan dan meminta agar sedotan dimasukkan ke dalam mulut sembari menutup hidung. "Coba sekarang bernapas dengan mulut lewat sedotan tersebut, Saya setiap hari bernapas seperti itu," kata perempuan yang sempat berkarir sebagai pustakawan tersebut.
Sempit dan sesak adalah dua hal yang dirasa ketika mencoba tantangan tersebut. Maka tak heran, ketika memaparkan mengenai kisah hidupnya, sesekali Dhian terdiam dan mencoba mengatur nafas.
Dhian didiagnosis menderita hipertensi paru sejak 2006 saat berusia 30 tahun. Awalnya ia tidak sadar mengalami kelainan jantung dan memiliki lubang sebesar 2.8 cm di bilik jantungnya.
Dhian mengaku mulai mengalami sesak napas, mudah lelah, nyeri dada dan kerap merasa ingin pingsan saat melakukan kegiatan sehari-hari seperti mengejar jadwal kereta atau naik tangga. Perlu diketahui, salah satu penyebab penyakit hipertensi paru adalah kelainan pada jantung.
"Saya tidak curiga ini kenapa, mungkin semua orang juga merasa capek karena informasi tentang hipertensi paru belum pernah saya dengar sekalipun," ungkapnya.
Kini, Dhian bergabung dengan Yayasan Hipertensi Paru Indonesia atau YHPI. Melalui yayasan tersebut, ia dan kawan-kawan sesama pengidap hipertensi paru ikut mengadvokasi penyediaan obat hipertensi paru di Indonesia.
Dhian mengatakan bahwa dari 14 obat yang tersedia di dunia, hanya empat yang masuk dan satu obat yang baru ditanggung oleh BPJS.
"Obat agak pelik juga yang selama ini dipakai dan diresepkan pada kita bukan indikasi untuk hipertensi paru. Hal yang kita perjuangkan itu jangkauan atau akses untuk pasien-pasien lain lewat BPJS. Karena obat yang dicover BPJS, obat tahap awal, tapi kan penyakit ini progresif," jelasnya merinci.
Di balik keterbatasan obat dan aktifitas, Dhian dan rekannya ikut mengkampanyekan gaya hidup sehat bagi penderita hipertensi paru.
Delapan gaya hidup sehat tersebut yaitu hemat dalam berbagai hal seperti hemat asupan air, garam, lemak jenuh, tenaga, pikiran, banyak konsumsi buah dan sayur, ibadah teratur, selalu bersyukur, serta jangan lupa selalu tersenyum.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
Terkini
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi
-
Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat