Suara.com - Polusi udara ternyata tak hanya bisa menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), tetapi juga bisa mengganggu pertumbuhan paru-paru pada anak.
Ini terlihat dari hasil sebuah penelitian di Inggris yang menemukan bahwa tingginya kadar polusi udara menjadi penyebab gangguan pertumbuhan paru-paru pada anak-anak. Mereka yang sering terpapar polusi sangat mungkin memiliki ukuran paru-paru yang lebih kecil daripada anak-anak yang hidup di lingkungan sehat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak berusia 8 - 9 tahun yang tinggal di kota-kota besar, yang akrab dengan asap kendaraan bermotor, memiliki kapasitas paru-paru 10 persen lebih kecil daripada anak-anak yang tinggal di pedesaan.
Kesimpulan ini didapat setelah para peneliti melakukan penelitian selama enam tahun. Mereka meneliti fungsi paru-paru dari 2.400 anak di 25 sekolah, di seluruh London timur, dan menemukan korelasi langsung antara paparan polutan udara dan pertumbuhan paru-paru.
Anak-anak tersebut memiliki risiko penyakit seperti asma dan bronkitis, serta mengalami gangguan pernapasan secara permanen akibat kapasitas paru-paru yang lebih kecil.
"Data menunjukkan bahwa polusi lalu lintas menghentikan pertumbuhan paru-paru anak," kata ahli toksikologi pernapasan di King College London, Ian Mudway.
Tes dilakukan dengan memeriksa volume udara setiap anak saat bernapas dan tingkat peradangan dalam paru-paru mereka, termasuk tes urine untuk memeriksa kandungan logam berat yang diproduksi oleh kendaraan dalam tubuh mereka.
"Bukti menunjukkan bahwa anak usia 8 - 9 tahun adalah yang paling dirugikan oleh polusi udara. Sebanyak 5 - 10 persen kapasitas paru-paru mereka berkurang dan mereka tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan ukuran paru-paru yang seharusnya," tambah Mudway.
Penelitian ini dilakukan untuk menilai dampak dari low emission zona London (LEZ) yang diberlakukan sejak 2008.
Penelitian sebelumnya menunjukkan, polutan diesel menyebabkan peradangan pada paru-paru. Para peneliti mengatakan, tes yang mereka lakukan pada anak-anak itu menunjukkan adanya karbon hitam dari emisi gas buang diesel dalam sel paru-paru anak. (Telegraph)
Berita Terkait
Terpopuler
- Pasca Penonaktifan, 3.000 Warga Kota Yogyakarta Geruduk MPP untuk Reaktivasi PBI JK
- 5 Pemain Top Dunia yang Berpotensi Ikuti Jejak Layvin Kurzawa Main di Super League
- 7 HP Xiaomi RAM 8 GB Termurah di Februari 2026, Fitur Komplet Mulai Rp1 Jutaan
- 7 HP Murah Terbaru 2026 Buat Gaming: Skor AnTuTu Tinggi, Mulai Rp1 Jutaan!
- 10 HP OPPO RAM 8 GB dari yang Termurah hingga Flagship 2026
Pilihan
-
Kembali Diperiksa 2,5 Jam, Jokowi Dicecar 10 Pertanyaan Soal Kuliah dan Skripsi
-
Geger! Pemain Timnas Indonesia Dituding Lakukan Kekerasan, Korban Dibanting hingga Dicekik
-
Polisi Jamin Mahasiswi Penabrak Jambret di Jogja Bebas Pidana, Laporan Pelaku Tak Akan Diterima
-
Komisi III DPR Tolak Hukuman Mati Ayah di Pariaman yang Bunuh Pelaku Kekerasan Seksual Anaknya
-
Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus
Terkini
-
Rahasia Puasa Tetap Kenyang Lebih Lama Tanpa Loyo, Ini Pendamping Sahur yang Tepat
-
Lantai Licin di Rumah, Ancaman Diam-Diam bagi Keselamatan Anak
-
Zero-Fluoroscopy, Solusi Minim Risiko Tangani Penyakit Jantung Bawaan Anak hingga Dewasa
-
Olahraga Saat Puasa? Ini Panduan Lengkap dari Ahli untuk Tetap Bugar Tanpa Mengganggu Ibadah
-
Google dan Meta Dituntut Karena Desain Aplikasi Bikin Anak Kecanduan
-
Bergerak dengan Benar, Kunci Hidup Lebih Berkualitas
-
Direkomendasikan Para Dokter, Ini Kandungan Jamtens Tangani Hipertensi dan Kolesterol
-
Perubahan Iklim Bikin Nyamuk DBD Makin Ganas, Dokter: Kini Bisa Berulang 2 Tahunan
-
Mengenal Ultra Low Contrast PCI, Pendekatan Tindakan Jantung yang Lebih Ramah Ginjal
-
Bukan Sekadar Timbangan: Mengapa Obesitas Resmi Jadi Penyakit Kronis di 2026?