Suara.com - Ada delapan mitos tentang kebersihan yang ternyata salah beAda banyak mitos kebersihan yang beredar di masyarakat. Misalnya, agar tubuh bebas dari bakteri yang menyebabkan penyakit, Anda harus mandi setiap hari, atau ada pula anggapan bahwa toilet umum bisa menimbulkan penyakit infeksi? Benarkah semua itu?
Menjawab soal mitos-mitos soal kebersihan, berikut beberapa mitos dan fakta tentang kebersihan yang dihimpun hellosehat.com.
Mitos: Sabun dapat membunuh bakteri
Fakta: Salah. Sabun yang Anda pakai sebenarnya tidak membunuh kuman. Selama ini sabun yang Anda gunakan tersebut hanya memindahkannya ke tempat lain, bukan membunuhnya.
Jadi, cara kerja sabun sebenarnya hanya mengangkat kuman dan bakteri penyebab penyakit yang ada pada permukaan kulit. Lalu, ketika Anda membilasnya dengan air, kuman dan bakteri tersebut terbawa serta berpindah pada aliran air tersebut. Oleh karena itu, sebaiknya Anda menggunakan air yang mengalir ketika mencuci tangan atau bagian tubuh lainnya. Sehingga bakteri dapat terbuang bersama aliran air tersebut.
Mitos: Keramas setiap hari bikin kuman hilang
Fakta: Salah. Setiap orang pasti memiliki jadwal mencuci rambutnya tersendiri. Tapi, tidak sedikit yang keramas sangat sering, bahkan setiap kali ia mandi.
Sebenarnya, mencuci rambut setiap hari hanya membuat rambut Anda kurang sehat. Sampo memang ampuh untuk membersihkan dan menghilangkan minyak pada rambut, tapi jika terlalu sering hanya akan membuat rambut kering dan rapuh.
Mitos: Anda butuh mandi setiap hari
Fakta: Katanya, agar tubuh bersih, Anda harus mandi setidaknya dua kali dalam satu hari. Tidak tahu dari mana datangnya anjuran tersebut.
Namun, menurut beberapa ahli, Anda tidak perlu mandi dua kali dalam satu hari, bahkan tidak mandi setiap hari juga tak masalah. Justru mandi terlalu sering akan membuat bakteri baik pada kulit Anda mati.
Namun, semakin sering dan lama Anda menghabiskan waktu di luar ruangan, maka sebaiknya Anda mandi untuk membersihkan kuman yang tertempel pada tubuh.
Baca Juga: Mitos dan Fakta Pisang, Buah yang Kontroversial
Mitos: Toilet umum penuh dengan bakteri
Fakta: Tidak juga. Toilet umum memang biasanya kotor dan bisa jadi kumpulan bakteri penyakit. Namun menurut ahli mikrobiologi, bakteri yang ada di toilet umum sama saja seperti bakteri toilet di rumah Anda.
Dudukan kloset pada toilet umum yang Anda kira kotor dan penuh dengan kuman itu sebenarnya tidak berbahaya.Selama Anda tidak memiliki luka terbuka di bagian kulit yang bersentuhan dengan kloset duduk, maka Anda tidak akan mengalami infeksi karenanya.
Mitos: Keringat membuat tubuh jadi bau
Fakta: Keringat yang dihasilkan dari kulit Anda sebenarnya tidak memiliki bau sama sekali. Lalu apa yang membuatnya menjadi bau? Bau badan timbul akibat bakteri yang menempel pada permukaan kulit. Jadi, ketika keringat bercampur dengan bakteri, maka bau badan baru muncul. Bakteri yang paling sering ada di permukaan kulit seperti Staphylococcus epidermis dan S. Aureus.
Mitos: Hand sanitizer mampu membunuh semua bakteri di tangan
Fakta: Jika Anda mengganti kebiasaan membersihkan tangan dengan sabun dan air menjadi menggunakan hand sanitizer, maka sebenarnya tindakan Anda kurang baik. Faktanya, sampai saat ini sabun cuci tangan masih dirasa ampuh untuk menghilangkan bakteri di tangan. sebab baru-baru ini diketahui bahwa antibakteri yang ada di hand sanitizer diketahui tidak bekerja sebaik sabun cuci tangan.
Mitos: Membersihkan rumah harus memakai produk antibakteri
Fakta: Karena ingin rumah bersih dan bebas dari bakteri, bukan berarti Anda harus membeli semua produk pembersih rumah yang antibakteri. Menurut ahli mikrobiologi, produk pembersih antibakteri yang dijual di pasaran lebih banyak mengandung zat triklosan yang dianggap tidak cukup ampuh membunuh bakteri. Justru triklosan bisa menjadi racun untuk lingkungan sekitar Anda. Berbeda dengan desinfektan – yang ada di dalam pemutih – bisa bekerja lebih baik dalam melawan bakteri penyakit dan tidak membuat lingkungan tercemar.
Mitos: Anda tidak harus mengganti seprai terlalu sering
Fakta: Malah sebaliknya. Faktanya, seprai yang Anda gunakan adalah salah satu sarang bakteri dan kuman. Sebenarnya, setiap jam Anda menambahkan jumlah bakteri dan kuman pada seprai.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 5 HP Baterai 7000 mAh Terbaru 2026, Tahan Seharian dan Kencang Mulai Rp1 Jutaan
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
Terkini
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?