Suara.com - Kita tentu sudah mengetahui bahwa pubertas adalah proses alami yang terjadi pada tubuh setiap orang. Namun sayangnya, fase satu ini sekarang cukup meresahkan dalam kehidupan banyak perempuan muda.
Sesuatu yang mulai mengkhawatirkan kini mulai terjadi. Di mana, pubertas terjadi saat anak perempuan masih 'sibuk' dengan dunia bonekanya. Atau dengan kata lain, banyak anak perempuan, khususnya di perkotaan mengalami pubertas lebih cepat.
Jika biasanya anak-anak perempuan di pedesaan baru akan menstruasi pada usia 15-16 tahun, namun anak perempuan di daerah perkotaan banyak yang mendapatkan menstruasi lebih awal, yakni antara usia 8 tahun.
Masa pubertas dini (yang juga dikenal sebagai pubertas prekoks) juga ditandai dengan tanda-tanda pubertas seperti pertumbuhan payudara, serta munculnya rambut kemaluan dan ketiak.
Pubertas dini menyebabkan banyak masalah psikologis dan ketidaknyamanan fisik bagi anak perempuan, ini dikarenakan pikiran dan tubuhnya belum cukup dewasa menghadapi perubahan.
Belum lagi, mereka harus mengalami perubahan suasana hati yang besar, gejala yang mirip PMS dan emosi remaja lainnya. Dr Vaishaki Rustagi yang berbasis di Delhi dan seorang Konsultan Associate - Endokrinologi Pediatrik di Rumah Sakit Max Super Speciality, Shalimar Bagh berbagi perhatiannya.
"Pubertas dini mengarah pada perkembangan dorongan seksual sejak dini. Hal ini bisa berbahaya karena anak perempuan tersebut belum siap secara mental. Mereka harus cukup dewasa untuk memahami dan secara konstruktif menyalurkan dorongan ini. Perkembangan seorang anak perempuan juga bisa membuat orangtua merasa tidak nyaman," ungkap dia.
Anak perempuan yang melewati masa pubertas tentu akan menarik perhatian yang tidak diinginkan dari lawan jenis. Sementara itu, betapapun fisiknya sedang berkembang, pematangan psikososialnya tetap melekat pada usia kronologisnya dan karenanya dia tidak dapat menyesuaikan diri dengan apa yang sedang terjadi.
Dia menjadi canggung secara sosial dan mulai menolak dari interaksi sosial, terkadang hal ini menyebabkan depresi. Anak perempuan yang memulai pubertas mereka lebih awal sebelum teman sebayanya biasanya juga akan merasa cukup khawatir.
Baca Juga: Pubertas Dini Disebabkan oleh Kurangnya Kesejahteraan?
Dr Duru Shah, Direktur Gynaecworld dan Presiden Elect of the Indian Society for Assisted Reproduction (ISAR) mengatakan, mereka bisa mengalami rendah diri dan sadar akan citra tubuh mereka.
"Hal ini membuat mereka berisiko mengalami depresi. Orangtua menjadi sangat penting. Jika perlu, konseling psikologis dapat dilakukan untuk anak perempuan dan juga orangtua," kata dia.
Sebagai orang tua, kata Dr. Duru Shah, penting untuk memastikan anak Anda tidak terpapar obat hormon yang mengandung estrogen atau testosteron. Pastikan bahwa anak mengawasi kesehatan berat badannya adalah cara lain untuk mencegah pubertas dini. [Time of India]
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- Keunggulan Pompa Air Shimizu PL-138 BIT, Solusi Air Jernih Anti Karat
- 4 Zodiak Paling Beruntung pada 27 Juni 2026, Siap-siap Jadi Magnet Uang
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
Pilihan
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
Terkini
-
Kenalan dengan HYROX, Fitness Race yang Sedang Digandrungi Komunitas Olahraga
-
World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak
-
Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern
-
Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua
-
Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan
-
Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental