Suara.com - Depresi merupakan penyakit fisik yang bisa diobati dengan obat anti-inflamasi atau anti peradangan. Klaim tersebut dikemukakan oleh seorang profesor dari Universitas Cambridge, Inggris, Profesor Ed Bullmore.
Ed percaya, sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif dapat memicu kondisi kesehatan mental dan menyebabkan peradangan bisa meluas hingga menyebabkan perasaan putus asa dan tidak bahagia. Dia mengungkapkan, pada proses itu, sistem kekebalan tubuh gagal 'dimatikan' setelah kejadian sakit atau traumatis.
Penelitian sebelumnya juga menunjukkan orang-orang yang menderita trauma emosional parah juga memiliki tanda-tanda peradangan yang menunjukkan sistem kekebalan tubuh mereka terus-menerus "dipanaskan".
"Sehubungan dengan suasana hati, tanpa keraguan, ada hubungan yang sangat kuat antara peradangan dan gejala depresi," kata Profesor Ed Bullmore yang juga kepala departemen psikiatri di Universitas Cambridge.
"Dalam studi pengobatan eksperimental, jika Anda merawat individu yang sehat dengan obat peradangan seperti interferon, sebagian besar orang tersebut akan mengalami depresi," sambungnya kepada The Telegraph.
Periset dari Universitas Cambridge dan Wellcome Trust berharap untuk memulai penelitian mendalam pada tahun depan yang menyelidiki keefektifan obat anti-inflamasi dalam masalah depresi.
Ketika sistem kekebalan tubuh mencurigai adanya ancaman, ia memicu peradangan, yang menyebabkan perubahan pada tubuh, seperti peningkatan jumlah sel darah merah, sebagai persiapan untuk menyembuhkan luka.
Sampai saat ini, korelasi antara peradangan dan depresi semacam itu masih ditolak sebagai penyebab karena para ilmuwan meyakini otak dan sistem kekebalan tubuh beroperasi secara terpisah. Meski demikian, studi terbaru menunjukkan adanya hubungan antara saraf di otak dan fungsi kekebalan tubuh.
Angka juga telah mengungkapkan sekitar 60 persen orang yang mengunjungi dokter dengan nyeri dada sebenarnya menderita masalah kegelisahan, sementara sekitar 30 persen dari mereka dengan kondisi seperti arthritis memiliki kondisi kesehatan mental lainnya.
Baca Juga: Survei: 40 Persen Perempuan Alami Depresi dan Kecemasan
"Ada hubungan mekanistik yang nyata antara pikiran, sistem saraf dan sistem kekebalan tubuh," ungkap Profesor Sir Robert Lechler, presiden Akademi Ilmu Kesehatan.
Lebih lanjut, para ahli memaparkan, pendekatan usang untuk memisahkan kondisi kesehatan mental dan fisik adalah menahan kemajuan pada dunia medis. Hal ini muncul setelah penelitian dari North Carolina State University mengungkapkan satu dari lima perempuan dengan depresi pascamelahirkan menyimpan rasa kecemasan pada diri mereka sendiri.
Dari jumlah tersebut, sekitar separuh perempuan mengklaim memiliki setidaknya satu penghalang untuk meminta bantuan seseorang dengan asumsi "sangat sulit" atau "tidak mungkin mendapatkan pertolongan". (Dailymail)
Berita Terkait
Terpopuler
- PP Nomor 9 Tahun 2026 Resmi Terbit, Ini Aturan THR dan Gaji ke-13 ASN
- 31 Kode Redeem FF Max Terbaru Aktif 10 Maret 2026: Sikat Diamond, THR, dan SG Gurun
- Media Israel Jawab Kabar Benjamin Netanyahu Meninggal Dunia saat Melarikan Diri
- Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
- Promo Alfamart dan Indomaret Persiapan Hampers Lebaran 2026, Biskuit Kaleng Legendaris Jadi Murah
Pilihan
-
Eksklusif! PowerPoint yang Dibuang Trump Sebabkan Tentara AS Mati
-
Belanja Rp75 Ribu di Alfamart Bisa Tebus Murah: Minyak Goreng Rp36.900 hingga Sirup Marjan Rp6.900
-
Ayah hingga Istri Tewas! Mojtaba Khamenei: AS-Israel Akan Bayar Darah Para Syuhada
-
Abu Janda Maki Prof Ikrar di TV, Feri Amsari Ungkap yang Terjadi di Balik Layar
-
Resmi Ditahan, Yaqut Diduga Terima Fee dari Jemaah Daftar Bisa Langsung Berangkat Haji
Terkini
-
Rahasia Mengapa Kepemimpinan Perempuan Jadi Kunci Sukses Kesehatan Ibu dan Anak di Indonesia
-
Siap-Siap Lari Sambil Menjelajahi Pesona Heritage dan Kuliner di Jantung Jawa Tengah
-
Time is Muscle: Pentingnya Respons Cepat saat Nyeri Dada untuk Mencegah Kerusakan Jantung
-
Jaga Gula Darah Seharian, Penderita Diabetes Wajib Atur Pola Makan
-
Menjaga Hidrasi Saat Puasa, Kunci Tetap Bugar di Tengah Aktivitas Ramadan
-
Puasa Ramadan Jadi Tantangan bagi Penderita Diabetes, Begini Cara Mengelolanya
-
Kulit Sensitif dan Rentan Iritasi, Bayi Butuh Perawatan Khusus Sejak Dini
-
Glaukoma Bisa Sebabkan Kebutaan Tanpa Gejala, Ini Hal-Hal yang Perlu Diketahui
-
Mengenal Operasi TAVI, Prosedur Jantung Modern Minimal Invasif yang Kini Hadir di Bali
-
Pentingnya Menjaga Kualitas Air Minum Isi Ulang agar Aman Dikonsumsi