Suara.com - Anda pernah merasa takut, khawatir, dan cemas bila pekerjaan tidak sesuai dengan keinginan atasan. Bisa juga karena rasa marah, benci, hingga tersaingi terhadap rekan kerja satu tim.
Nah, agar stres pekerjaan tak berujung gangguan kejiwaan, ada baiknya Anda manfaatkan jatah cuti secara rutin. Dokter spesialis okupasi Nuri Perwito Adi mengatakan bahwa cuti merupakan salah satu cara mengelola stres akibat tuntutan pekerjaan.
"Cuti itu perlu. Kalau kita lihat di kurva level stres ada semacam puncak dimana kita merasa stres akibat pekerjaan. Cuti merupakan salah satu cara menurunkan tingkat stres," ujar dia pada temu media Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di Jakarta, Kamis (5/10/2017).
Undang-Undang (UU) Ketenagakerjaan Nomor 13 tahun 2003 sendiri mengatur hak cuti yang didapat karyawan minimal 12 hari dalam setahun dengan syarat si pekerja sudah 12 bulan meniti karir di perusahaan tersebut. Lalu kapan waktu yang tepat untuk mengambil cuti?
"Bila tingkat stres sudah sampai di tahap kelelahan atau stres yang tingkat burn out yang ditandai dengan kecemasan, itu saat tepat untuk mengambil cuti," tambah dia.
Ukuran lamanya cuti yang diambil pun kata Nuri bisa disesuaikan dengan model, beban pekerjaan dan tipe pribadi si pekerja. Tentu saja karena termasuk hak karyawan, perusahaan sebaiknya tidak mempersulit akses karyawan dalam mengambil jatah cuti.
"Yang kemudian jadi persoalan adalah perusahaan memiliki aturan yang berbeda saat karyawan mengambil cuti. Ada yang kesannya mempersulit padahal itu hak karyawan dan diatur undang-undang. Tentu saja ada sanksi bagi atasan atau perusahaan yang melanggar undang-undang mengenai hak karyawan," pungkas dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga