Suara.com - Kasus pernikahan dan kehamilan pada anak dan remaja kerap menjadi sorotan di Indonesia. Meski terjadi secara lumrah, bukan berarti isu tersebut tidak pernah dibahas dan menjadi perdebatan di masyarakat.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise dalam berbagai kesempatan berkali-kali mengatakan keinginannya menaikkan usia minimal menikah, dan merevisi UU Perkawinan.
Dicatat pada pasal 7 ayat 1 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, usia minimal perempuan menikah adalah 16 tahun, dan laki-laki 19 tahun.
Remaja pada pengertiannya, adalah seseorang atau individu yang berada pada tahapan pertumbuhan dan perkembangan serta merupakan masa peralihan setelah masa kanak-kanak menjadi dewasa. Menurut Badan Kesehatan Dunia atau WHO, seseorang masuk kategori remaja ketika memasuki usia 10 sampai 19 tahun.
Karena itu, pernikahan atau bahkan kehamilan pada usia-usia tersebut sebaiknya dihindari, lantaran dianggap belum cukup matang baik secara fisik maupun emosional.
Parahnya, remaja Indonesia juga ditimpa masalah lain yang tidak kalah memperihatinkan. Menurut data Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2013, anemia telah menimpa sebanyak 28 persen remaja putra dan 27 persen remaja putri usia enam hingga 12 tahun.
Memasuki kategori usia subur, ada 16 persen remaja putra dan 22,7 persen remaja putri Indonesia yang menderita anemia. Data tersebut berlanjut pada kategori ibu hamil, di mana ada sepertiganya atau sekitar 37.1 persen ibu hamil dengan kondisi anemia.
Menurut profesor dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Endang L. Achadi, anemia atau keadaan di mana kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah lebih rendah dari nilai normal, dapat berdampak pada rendahnya aktifitas fisik, daya pikir, hingga proses kelahiran nantinya.
"Remaja itu masih tumbuh. Kalau dia masih tumbuh, untuk dirinya sendiri saja dia memerlukan tenaga, energi, zat besi. Nah sekarang dia harus berbagi dengan bayinya," kata Endang kepada Suara.com.
Baca Juga: 35 Persen Perempuan Pekerja di Indonesia Alami Anemia
Senada dengan Endang L. Achadi, dosen dari Fakultas Kesehatan Masyarakat UI lain, Diah M. Utari juga mengatakan bahwa ibu hamil yang mengalami defisiansi zat besi, memiliki dampak kesehatan tidak hanya pada dirinya, tetapi juga terhadap bayi yang dikandungnya.
"Seorang ibu hamil yang mengalami defisiansi zat besi, akan melahirkan bayi dengan persediaan zat besi yang sedikit atau bahkan tidak ada. Maka bayi berisiko mengalami anemia pada usia empat bulan," kata Diah M. Utara dalam kegiatan 'Journalist Goes to Campus' yang diselenggarakan oleh Danone Indonesia dan bekerjasama dengan Positive Deviance Resource Centre (PDRC) FKM UI dan Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) di Depok, Senin (11/12/2017).
Bila kondisi tersebut tidak diperbaiki sedini mungkin, Endang L. Achadi khawatir anak yang dilahirkan dari ibu yang anemia, akan mengalami masalah daya tahan tubuh, kebugaran, fungsi kognitif terganggu hingga produktivitas yang rendah.
"Kalau seorang anak mengalami anemia dini dan tidak segera dikoreksi, maka dia (anemia) berisiko menurunkan IQ sampai 10 poin," jelasEndang L. Anhari Achadi.
Untuk itu, Endang menekankan pentingnya kondisi sehat dan bebas anemia pada calon ibu agar tidak diturunkan. "Harus ada persediaan (zat besi) saat persalinan ketika pendarahan. Waktu menuju persalinan asupan (zat besi) masih sama, risiko semakin tinggi."
Risiko persalinan tersebut, kata Endang, juga bisa berupa bayi lahir prematur dan Berat Badan Lahir Rendah atau BBLR. Untuk itu, Endang menghimbau agar perempuan muda mau menunda persalinan pertama sampai memasuki usia 20 tahun di mana pertumbuhan telah selesai.
"Selain itu juga tidak boleh hamil dalam kondisi anemia dan tidak boleh hamil saat kurus," tutup Endang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat
-
Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance
-
Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum
-
Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis Redakan Wasir dengan Cara Alami
-
Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun