Suara.com - Data terbaru dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) melaporkan adanya 600 kasus infeksi difteri terjadi di 142 kota/kabupaten, di mana 38 pasien diantaranya meninggal dunia. Difteri sebenarnya merupakan penyakit kuno yang sudah ditemukan sejak abad 5 SM.
Pada abad 6, difteri pernah menjadi epidemik di seluruh dunia. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan ditemukan vaksin, kasus difteri mulai menghilang.
"Masyarakat sudah lengah karena menyangka penyakit ini sudah tidak ada. Kalau ktia tidak waspada, terjadilah kasus difteri seperti sekarang ini," kata Dr. dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A(K) dari FKUI RSCM pada diskusi Ngobras, Selasa (19/12/2017).
Infeksi difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae. Dalam dua hingga tiga hari setelah terinfeksi virus ini, pasien biasanya akan memiliki pseudo-membran berwarna putih di tenggoorokan dan tonsil yang membengkak.
"Lendir bisa menutup saluran napas sehingga napas sesak. Bila lendir terus turun ke saluran napas bawah, akan menimbulkan sakit berat bahkan kematian," ungkap lelaki yang akrab disapa dr. Hinki.
Komplikasi akibat penyakit difteri, kata dr Hinki terjadi akibat toksin yang dihasilkan bakteri difteri. Selama kuman masih ada, toksin akan terus dihasilkan, hingga akhirnya menyerang jantung dan menyebabkan peradangan otot jantung.
"Tingkat kematiannya 5-10 persen. Padahal vaksin bisa mencegah penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Lalu kenapa sekarang orang takut divaksin," imbuhnya.
Untuk menetralisir racun yang sudah beredar, pasien, kata dia, akan diberikan anti toksin. Namun, bila toksin sudah menempel di jantung, hanya bisa menunggu tubuh menetralisir. Kalau tubuh gagal melakukannya, detak jantung bisa terganggu dan kematian bisa terjadi.
Cakupan vaksin DPT secara nasional memang tinggi. Namun bila dilihat per kabupaten, per kecamatan dan per kelurahan, ada kantong-kantong yang cakupannya sangat rendah. Menurut dr Hinki, inilah yang menyebabkan kasus difteri kembali merebak bahkan meledak di Indonesia.
Baca Juga: RSUD Sekarwangi Sukabumi Rawat Lima Pasien Difteri
Dia pun menegaskan, bahwa difteri tidak cukup dicegah dengan imunisasi dasar. Setelah pemberian tiga dosis imunisasi dasar saat bayi, perlu dilakukan booster di usia 18-24 bulan, lima tahun dan 10 tahun.
"Yang pasti, kampanye soal vaksin harus diulang-ulang terus. Kita harus terus konsisten. Jangan malas dan bosan, karena itulah yang ditunggu oleh kelompok antivaksin," tandas dr. Hinki.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
- Foto Pangakalan Militer AS di Arab Saudi Hancur Beredar, Balas Dendam Usai Trump Hina MBS
Pilihan
-
Kepulangan Jenazah Praka Farizal dari Lebanon ke Kulon Progo Diestimasikan Tiba Jumat Lusa
-
Update Tarif Listrik per kWh April 2026, Apakah Ada Kenaikan Harga?
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
Terkini
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak
-
Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026
-
Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS
-
Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat
-
Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem
-
Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil
-
Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya