Suara.com - Organisasi kesehatan dunia (WHO), bulan lalu menetapkan kecanduan game sebagai bentuk gangguan jiwa. Dalam daftar klasifikasi penyakit terbarunya (ICD), badan dunia ini menjelaskan bahwa kecanduan game merujuk pada keinginan kuat melakukan permainan itu, sampai penderita menganggapnya sebuah keharusan dan lebih utama dibanding kepentingan lainnya dalam hidup.
Di Indonesia, kecanduan game merupakan salah satu akibat dari kesalahan pola asuh orangtua yang membuat anak bebas memegang gawai. Dalam peringatan Hari Anak Nasional kemarin (23/07/2018), kecanduan game dianggap sebagai ancaman serius bagi tumbuh kembang anak.
Disampaikan Dr dr Soedjatmiko, SpA(K), MSi, pakar tumbuh kembang anak, kecanduan game memiliki dampak serius bagi perkembangan si buah hati. Dari segi fisik, anak yang kecanduan game akan terpaku dengan layar gadget selama beberapa jam. Hal ini membuat indera penglihatannya mengalami penurunan kemampuan, hingga membuat mereka harus mengenakan kacamata.
"Bermain game biasanya di depan komputer atau ponsel. Anak menjadi kurang aktivitas fisiknya, yang seharusnya bermain malah duduk di depan gawai. Bisa memicu obesitas juga," ujar dr Soedjatmiko dalam temu media peringatan Hari Anak Nasional di Kementerian Kesehatan, Selasa (24/07/2018).
Ia menambahkan, di sisi psikologis, anak yang kecanduan game juga cenderung tidak mampu bersosialisasi dengan baik. Hal ini pada gilirannya akan membuat anak menjadi kuper alias kurang pergaulan. Untuk mencegah sederet dampak ini, dr Soedjatmiko mengimbau agar orangtua melakukan tiga hal, yakni memberi contoh, mengontrol dan memberi solusi.
"Bagaimana mau membatasi anak bermain game kalau orangtuanya asyik dengan gawai. Jadi harus beri contoh yang baik, orangtua melarang anak pakai gawai agar tidak kecanduan game, mereka juga tidak boleh terlalu sering menggunakan gawai," tambahnya.
Orangtua, kata dia, sebenarnya tak perlu melarang anaknya bermain gawai. Menurut dia, lebih baik orangtua mengontrol penggunaan gawai pada anak. Ketika anak menggunakan gawai untuk mencari informasi seputar pelajarannya, maka tidak perlu dilarang.
"Baru terakhir beri solusi. Kalau anak dibatasi pakai gawai solusinya apa. Beri kesibukan seperti mengajak anak berolahraga, ikut les musik atau kegiatan menyenangkan positif lainnya. Kalau tiga hal ini dilakukan maka tidak akan sulit mengatasi kecanduan game pada anak," saran dr Soedjatmiko.
Sementara, Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, dr Eni Gustina MPH, mengatakan bahwa dari sisi kesehatan, pihaknya benar-benar menyadari bahwa kecanduan game bisa menyebabkan efek serius. Itu sebabnya, ia sudah menyurati Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk menetapkan peraturan tertentu soal distribusi aplikasi game untuk anak-anak.
Baca Juga: Bisnis E-Commerce 4 Tahun Lalu Tak Dilirik, Kini Booming
"Kami sudah melihat hal ini sebagai sesuatu yang harus diatasi. Kami sudah ke Kominfo, tetapi untuk beberapa hal belum kelihatan dampaknya. Dari Kominfo terlihat upaya untuk membatasi akses game ke anak-anak di bawah umur," paparnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Anak Aktif Rentan Lecet? Ini Tips Perlindungan Luka agar Cepat Pulih dan Tetap Nyaman
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia