Suara.com - Masih Lapar Setelah Makan? Ini 8 Hal yang Jadi Penyebabnya.
Apakah Anda selalu merasa lapar, bahkan setelah menyantap makanan lezat? Apakah Anda selalu ngemil di antara waktu makan? Jika jawabannya adalah ya, Anda tidak sendirian.
Beberapa orang cenderung merasa lapar sepanjang waktu. Dan walaupun kadang-kadang ada alasan medis untuk hal ini, seperti masalah tiroid atau sedang mengonsumsi antidepresan tertentu yang dikaitkan dengan peningkatan nafsu makan, sebagian besar penyebabnya juga bisa terjadi karena diet atau gaya hidup Anda.
Berikut adalah beberapa alasan mengapa Anda sering merasa lapar setelah makan dan apa yang harus Anda lakukan dengan gaya hidup Anda untuk membuat Anda merasa kenyang lebih lama, seperti mengutip Menshealth.
1. Anda tidak cukup tidur
Kurang tidur dapat mengganggu hormon pengatur nafsu makan, menurut laporan 2016 oleh American Heart Association. Ghrelin, hormon yang merangsang rasa lapar, bisa meningkat ketika Anda kurang tidur. Leptin, hormon yang menandakan rasa kenyang, bisa berkurang.
Selain itu, semakin banyak jam yang Anda habiskan untuk bangun, semakin besar kemungkinan Anda untuk pergi mencari makanan ke kulkas. Ini semua bisa menjelaskan mengapa Anda selalu lapar.
Usahakan untuk tidur sekitar tujuh jam setiap malam, dan ingat bahwa cahaya biru dari perangkat Anda dapat memengaruhi tidur secara negatif. Buat aturan untuk tidak menyalakan layar di tempat tidur.
2. Anda mengganti makanan dengan minuman
Mengganti makanan dengan smoothie buah tidak akan membuat Anda kenyang lama. Jadi, jika Anda memulai setiap pagi dengan protein dari minuman, itu bisa menjelaskan mengapa Anda selalu lapar.
Alasannya adalah karena cairan akan dicerna di dalam perut Anda dalam waktu kurang dari satu jam, kata ahli gastroenterologi Scott D. Levenson, M.D., direktur Pusat Medis Perawatan Pencernaan di San Carlos, California. Sedangkan makanan padat membutuhkan dua hingga empat jam untuk habis dicerna.
Baca Juga: Gunung Merapi Lima Kali Alirkan Lava Pijar pada Selasa
Sebuah tinjauan studi tahun 2015 menemukan bahwa tingkat pemrosesan oral yang lebih tinggi (atau dikenal sebagai mengunyah per gigitan) pada waktu makan memengaruhi hormon usus, terkait dengan berkurangnya rasa lapar dan meningkatnya perasaan kenyang.
3. Anda tidak benar-benar makan
Mungkin Anda tidak pernah menyukai sarapan. Atau jadwal kerja Anda yang sibuk membuat Anda melewatkan makan siang. Atau Anda hanya lupa untuk makan. Saatnya memprioritaskan waktu makan yang konsisten.
Orang yang tidak makan tepat waktu, memiliki kualitas diet yang lebih buruk, dan melewatkan sarapan dikaitkan dengan asupan gula tambahan yang lebih tinggi, menurut sebuah studi tahun 2017 yang diterbitkan dalam Circulation. Penelitian yang sama menemukan bahwa sarapan juga mengurangi keinginan mengemil impulsif. Jika Anda sering lupa pada makan, ingatkan dengan alarm di ponsel Anda.
4. Anda minum terlalu banyak soda
Perlu alasan lain untuk mengurangi soda dari diet Anda? Soda, es teh manis, dan minuman manis lainnya penuh dengan sirup jagung fruktosa tinggi, yang dikaitkan dengan tingkat rasa kenyang yang lebih rendah, menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Universitas Yale.
Itu karena mengkonsumsi fruktosa menghambat kemampuan otak kita untuk memproses sinyal dari hormon leptin, hormon kenyang yang memberi tahu kita ketika kita sudah cukup makan. Sehingga dapat menipu otak kita untuk menginginkan lebih banyak makanan, bahkan ketika kita kenyang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Anak Aktif Rentan Lecet? Ini Tips Perlindungan Luka agar Cepat Pulih dan Tetap Nyaman
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia