Suara.com - Jangan Lagi Tabu soal Seks, Dokter : Konsultasi Jika Ada Disfungsi Seksual.
Indonesia yang mengadopsi adat ketimuran membuat masyarkat yang membicarakan seks, pasti masih dianggap tabu. Begitu juga antara suami istri tidak saling terbuka masalah seks yang dialami.
Terbukti dari hasil penelitian yang ditemukan di Indonesia disfungsi seksual atau tidak merasa puas saat berhubungan seks dialami OLEH 43 persen dialami perempuan dan 31 persen dialami lelaki.
"Penyebab masalahnya beragam multidimensi seperti gangguan hasrat seksual, gairah, orgasme, dan nyeri," ujar dr. Grace Valentine, Sp.OG Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan RS Pondok Indah-Puri Indah dalam acara diskusi media, di Jakarta Selatan, Rabu (14/8/2019)
Tidak memandang jenis kelamin umur disfungsi seksual dialami perempuan dan lelaki di segala umur bagi mereka yang sudah menjalani kehidupan seks dengan pasangan. Walau mayoritas dialami usia dewasa hingga menopause, mirisnya belakangan semakin banyak ditemukan masalah ini dialami pasangan usia muda.
"Pada umumnya terkena dampak adalah orang dewasa yang lebih tua, hal ini terkait dengan penurunan kesehatan atau degeneratif," tutur dokter Grace.
Ada beragam penyebab terjadinya disfungsi seksual, seperti tidak adanya hasrat seksual karena keputihan, tidak percaya diri, perubahan hormon, depresi, kelelahan, bosan hingga gaya hidup. Begitupun saat seorang perempuan kesulitan mendapatkan orgasme disebabkan beragam sebab.
"Perempuan yang tidak mendapatkan orgasme ini biasanya alami hambatan seksual, kurang pengalaman baik si perempuan maupun lelaki, faktor psikologis perempuan seperti rasa bersalah, kecemasan, trauma atay pelecehan seksual masa lalu. Stimulasi yang tidak cukup, obat-obatan hingga alami penyakit kronis," paparnya panjang lebar.
Beruntung, masalah ini bisa ditangani oleh para tenaga medis ahli dengan melakukan diagnosis, melalui konsultasi hingga pemeriksaan panggul dan tes laboratorium.
Baca Juga: Apa Olahan Telur Favoritmu? Ternyata Bisa Ungkap Gairah Seks Anda
"Disfungsi ringan terkait dengan stres, rasa takut, atau kecemasan dapat berhasil diobati dengan konseling, pendidikan, dan komunikasi yang lebih baik antar pasangan," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- 61 Kode Redeem FF Max Terbaru 20 Maret 2026: Raih THR Idul Fitri, AK47 Lava, dan Joker
- 9 HP Gaming Terjangkau Rekomendasi David GadgetIn Buat Lebaran 2026, Performa Kencang!
- Apa Jawaban Minal Aidin Wal Faizin? Simak Arti dan Cara Membalasnya
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
Pilihan
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
Terkini
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi
-
Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!
-
Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?
-
Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung
-
Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman
-
Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi
-
Cedera Lutut hingga Bahu Paling Banyak Dialami Atlet dan Penggemar Olahraga
-
Jelang Lebaran, Korban Banjir Aceh Tamiang Dibayangi ISPA hingga Diare: Imunitas Harus Diperhatikan
-
Deteksi Dini dan Kebijakan Ramah Lingkungan: Solusi Terpadu untuk Menangani Penyakit Ginjal