Suara.com - Tes Kesehatan Mental Bikin Awam Lakukan 'Self Diagnose'? Ini Kata Pakar
Isu kesehatan jiwa tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial. Selain karena dijadikan latar belakang film populer keluaran DC, berjudul Joker, dunia juga akan segera memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober setiap tahunnya.
Belum lama ini, influencer, Karin Novilda, melalui media sosial Twitter mencoba mengungkapkan keresahannya mengenai laman yang memberikan skor atas pertanyaan-pertanyaan tentang kesehatan mental.
Ditulis perempuan yang akrab disapa Karin tersebut, tes macam itu dapat menimbulkan salah persepsi sehingga orang mudah melakukan diagnosis sendiri bahwa dirinya memiliki depresi.
"Saya tau itu (tes kesehatan mental) dimaksudkan bukan buat diagnose. Tapi, apakah kalian tau orang Indonesia belum sepenuhnya aware tentang mental illness? Mereka bisa self-diagnose, dok. Dengan adanya web questionnaires yg bisa ngasih skor skor kesehatan mental orang lain. Saya yakin dokter lebih paham," tulis Karin meladeni seorang dokter yang menyangkal bahwa metode pertanyaan tersebut dibuat untuk melakukan diagnosis dalam Twitter.
Ditemui media di Gedung Kementerian Kesehatan RI di Jakarta, Sekretaris Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, dr. Agung Prijanto SpKJ mengatakan bahwa tes kesehatan mental ada ribuan macamnya.
"Instrumen seperti ribuan jumlahnya. Saya sarankan kepada teman-teman dan melalui media, gunakan instrumen yang sudah tervalidiasi oleh profesi oleh Kemenkes, yang sudah terstandar," kata Agung.
Di Kementerian Kesehatan RI sendiri, ada aplikasi yang disebut Sehat Jiwa. Aplikasi tersebut dapat diunggap secara gratis oleh pengguna ponsel pintar android.
Di dalamnya, terdapat tiga metode tes kesehatan deteksi dini yang digunakan yaitu metode CAGE untuk yang kecanduan alkohol, SRQ 20 untuk nyeri dan masalah umum dan GDS 15 yang diperuntukkan bagi instrumen depresi usia lanjut.
Baca Juga: Selena Gomez Curhat Perjuangannya Menghadapi Depresi
Hanya dengan masuk ke dalam aplikasi tersebut dan menjawab sekitar 20 pertanyaan 'Ya' atau 'Tidak'. Jika enam dari 20 pertanyaan dijawab 'Tidak', maka sesuai Balitbang Kemenkes RI, orang tersebut disarankan untuk segera menghubungi tenaga kesehatan jiwa terdekat untuk berkonsultasi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo Indomaret 12-18 Maret: Sirup Mulai Rp7 Ribuan, Biskuit Kaleng Rp15 Ribuan Jelang Lebaran
- Media Israel Jawab Kabar Benjamin Netanyahu Meninggal Dunia saat Melarikan Diri
- Netanyahu Siap Gunakan Bom Nuklir? Eks Kolonel AS Lawrence Wilkerson Bongkar Skenario Kiamat Iran
- 10 Singkatan THR Lucu yang Bikin Ngakak, Bukan Tunjangan Hari Raya!
- 35 Kode Redeem FF Max Terbaru Aktif 11 Maret 2026: Klaim MP40, Diamond, dan Sayap Ungu
Pilihan
-
KPK OTT Bupati Cilacap, Masih Berlangsung!
-
Detik-Detik Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Podcast di YLBHI
-
Indonesia Beli Rudal Supersonik Brahmos Rp 5,9 Triliun! Terancam Sanksi Donald Trump
-
Kronologi Lengkap Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Podcast Militerisme
-
Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Podcast di YLBHI
Terkini
-
Membangun Benteng Kesehatan Keluarga: Pentingnya Vaksinasi dari Anak hingga Dewasa
-
Pentingnya Dukungan Asupan Nutrisi untuk Mendukung Perkembangan Anak Usia Sekolah
-
Rahasia Mengapa Kepemimpinan Perempuan Jadi Kunci Sukses Kesehatan Ibu dan Anak di Indonesia
-
Siap-Siap Lari Sambil Menjelajahi Pesona Heritage dan Kuliner di Jantung Jawa Tengah
-
Time is Muscle: Pentingnya Respons Cepat saat Nyeri Dada untuk Mencegah Kerusakan Jantung
-
Jaga Gula Darah Seharian, Penderita Diabetes Wajib Atur Pola Makan
-
Menjaga Hidrasi Saat Puasa, Kunci Tetap Bugar di Tengah Aktivitas Ramadan
-
Puasa Ramadan Jadi Tantangan bagi Penderita Diabetes, Begini Cara Mengelolanya
-
Kulit Sensitif dan Rentan Iritasi, Bayi Butuh Perawatan Khusus Sejak Dini
-
Glaukoma Bisa Sebabkan Kebutaan Tanpa Gejala, Ini Hal-Hal yang Perlu Diketahui