Suara.com - Dokter Jiwa Usul Percobaan Bunuh Diri Ditanggung BPJS, Ini Alasannya
Percobaan bunuh diri tidak boleh dianggap sepele. Sebab, percobaan bunuh diri sudah menandakan ada masalah kejiwaan atau bahkan gangguan jiwa yang dialami seseorang.
Karena itu, Sekretaris Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), dr. Agung Prijanto SpKJ, berharap tindakan menyakiti diri sendiri seperti percobaan bunuh diri yang berujung pada kebutuhan tindakan medis, masuk ke dalam layanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Percobaan bunuh diri, termasuk menggunakan narkoba akibat depresi, merupakan gejala gangguan jiwa yang serius.
Pernyataan tersebut dilontarkan setelah pihak Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, masih kesulitan mendapatkan data mengenai jumlah orang yang melakukan percobaan dan tindakan bunuh diri.
"Data kita masih dari kepolisian yang banyak. Dan ini masih berproses terus. Karena apa? Karena kondisi pelayanan bunuh diri atau percobaan bunuh diri yang gagal, yang dia masuk UGD, itu masih belum dibiayai oleh BPJS. Namanya self harm atau menyakiti diri sendiri dan akibat narkoba. Itu oleh BPJS masih belum dibiayai karena itu kesalahan perilaku orang tersebut," kata Agung saat ditemui media di Gedung Kementerian Kesehatan RI, di Jakarta, Senin, (7/10/2019).
Untuk itu, pihaknya bersama PDSKJI tengah berjuang agar dampak bunuh diri yang gagal dapat dicover oleh JKN. Harapannya, pasien mendapatkan perawatan kesehatan yang lebih baik, sehingga terhindar dari mengulangi perbuatannya.
"Jadi kita lagi berproses mudah-mudahan sistem JKN bisa mengcover namanya pervobaan bunuh diri yang masuk ke rumah sakit bisa dibiayai, self harm, menyakiti diri sendiri, itu bisa masuk pembiayaan sistem JKN," tambahnya.
Bunuh diri, menurut siaran dari Kementerian Kesehatan adalah tindakan sengaja yang menyebabkan kematian diri sendiri.
Menurut laporan WHO pada tahun 2010, angka bunuh diri di Indonesia mencapai 5.000 kasus pertahunnya.
Baca Juga: Bahaya, Psikolog Sebut Anak SD Juga Bisa Punya Keinginan Bunuh Diri
Beberapa faktor risiko gangguan jiwa seperti skizofrenia, depresi, penggunaan alkohol, dan
tinggal di kantung tertentu dalam area geografis dengan angka bunuh diri yang tinggi, bisa meningkatkan keinginan seseorang untuk melakukan percobaan bunuh diri.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi
-
Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat
-
Perawatan Gigi Anak yang Nyaman, Bantu Si Kecil Tumbuh dengan Senyum Sehat dan Percaya Diri
-
Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance