Suara.com - Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Provinsi Bali telah melakukan penelitian seputar kondisi dan permasalahan anak remaja yang dimulai sejak 2018. Khususnya, remaja dari 5 SMP Kota Denpasar yang menjadi sekolah percontohan.
Penelitian PKBI dalam bentuk Global Early Adolescent Study (GEAS) ini fokus pada persoalan gender, kesehatan mental, kedekatan dan harapan orangtua, kesehatan reproduksi serta bullying.
Mereka melibatnya sekitar 5.000 siswa kelas 7 da 8 berserta orangtuanya di Kota Denpasar yang berlangsung secara longitudinal hingga 2021. Hasilnya, pemahaman remaja di Bali tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas masih kurang.
Ternyata pengaruh teman sebaya semakin kuat ketika anak beranjak remaja dan semakin melemahnya pengaruh orangtua. Dalam hal ini, PKBI menyoroti cara berpacaran anak remaja masa kini.
Sebanyak 20 persen remaja laki-laki mengaku memiliki teman yang pernah berciuman dengan pacarnya, 14 persen mengetahui temannya sudah pernah petting, 7 persen mengetahui temannya sudah berhubungan seksual vaginal dengan kekasihnya dan 6 persen temannya melakukan hubungan seksual anal.
Komang Sutrisna, SH, Direktur PKBI Provinsi Bali mengakui data itu seharusnya menjadi kekhawatiran bagi publik, khususnya orangtua. Hal tersebut karena, gaya pacaran anak di bawah umur pun ternyata sudah sampai berani melakukan hubungan seksual berisiko.
Bagi mereka, hubungan seksual berisiko ini sebagai bentuk ekspresi cinta, lalu diikuti rasa penasaran dan kewajiban terhadap pasangan.
"Kita agak was-was, karena tingkat mereka pacaran sudah sampai hubungan seksual itu yang sangat tinggi datanya. Baru itu saja yang saya munculkan. Sebenarnya, remaja usia 10 tahun di Bali sudah melakukan hubungan seksual dengan pacarnya. Lalu usia 16 tahun ke atas, mereka baru lebih aktif secara seksual," jelas Komang Sutrisna di Grand Santhi Hotel, Selasa (29/10/2019) kemarin.
Selain itu, sebanyak 2,3 persen remaja bahkan mengaku sudah berani atau pernah mengirimkan foto sensualnya kepada orang lain atau kekasih.
Baca Juga: Tingkatkan Kespro, Remaja Harus Jadi Tokoh Utama Program Keluarga Berencana
PKBI Bali juga menemukan sebanyak 43,6 persen remaja menjalin hubungan asmara secara sembunyi-sembunyi di belakang orangtuanya. Lalu, remaja laki-laki juga lebih memiliki pengetahuan kesehatan reproduksi lebih baik dibandingkan perempuan.
Di sisi lain, perempuan juga yang harus dituntut mencegah terjadinya kehamilan setelah melakukan hubungan seksual berisiko. Hal ini tentunya berhubungan dengan pengertian remaja terhadap alat kontrasepsi.
Menurut Komang Sutrisna sendiri, remaja di Bali belum memahami betul perihal seksualitas dan kesehatan reproduksi. Terbukti, perkawinan anak di salah satu daerah di Bali cukup tinggi.
"Berarti pengetahuan Kespro remaja di Bali masih kurang. Lalu, perkawinan anak sangat tinggi. Kami sudah memantau 1 kecamatan di Bali yang tercatat usia perkawinan anaknya tinggi," ujarnya.
Dalam hal ini, media juga mengambil peranan penting dalam mengedukasi kesehatan reproduksi untuk publik, khususnya anak remaja. Itulah yang mendasari terbentuknya Komunitas Jurnalis Kespro Bali (JKB) yang dikoodinatori oleh Komang Sutrisna setelah menggelar acara "Media Briefing & Training terkait Harmonisasi Program Keluarga Berencana untuk Kesejahteraan Indonesia" di Grand Santhi Hotel, Denpasar pada 28-29 Oktober 2019.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- 6 Sepeda Lipat Alternatif Brompton, Harga Murah Kualitas Tak Kalah
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
Pilihan
-
Gempa Pacitan Guncang Jogja, 15 Warga Terluka dan 14 KA Berhenti Luar Biasa
-
Gempa M 4,2 Guncang Pacitan Terasa hingga Yogyakarta: 7 Orang Luka dan Sejumlah Bangunan Rusak
-
Hakim PN Depok Tertangkap Tangan Terima Ratusan Juta dari Swasta, KPK Lakukan OTT!
-
Hakim di PN Depok Tertangkap Tangan KPK, Diduga Terlibat Suap Ratusan Juta!
-
Eks Asisten Pelatih Timnas Indonesia Alex Pastoor Tersandung Skandal di Belanda
Terkini
-
Bukan Sekadar Timbangan: Mengapa Obesitas Resmi Jadi Penyakit Kronis di 2026?
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD
-
Melawan Angka Kematian Kanker yang Tinggi: Solusi Lokal untuk Akses Terapi yang Merata
-
Atasi Batuk Ringan hingga Napas Tidak Nyaman, Pendekatan Nutrisi Alami Kian Dipilih
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini
-
Solusi Bijak Agar Ibu Bekerja Bisa Tenang, Tanpa Harus Mengorbankan Kualitas Pengasuhan Anak