Suara.com - Makanan tidak hanya membantu pertumbuhan fisik anak, tetapi juga sangat memengaruhi kecerdasan mental dan otak anak, bahkan hingga mereka tumbuh dewasa.
Ini dikarenakan, kata psikolog anak, Saskhya Aulia Prima, ada hubungan kuat antara usus dan otak manusia. Oleh karena itu, sumber makanan yang dikelola usus, sambung dia, sangat memengaruhi cara kerja otak.
"Dalam beberapa penelitian bahkan diistilahkan bahwa usus merupakan otak kedua manusia. Bakteri di dalam usus yang terbentuk sejak seseorang masih bayi akan berkembang menjadi bakteri baik yang banyak fungsi," ucap psikolog Saskhya saat berbincang dengan Suara.com belum lama ini di Jakarta.
Bakteri ini, lanjut dia, tidak hanya mencerna makanan, namun juga menjaga sistem kekebalan tubuh, memproduksi berbagai vitamin dan mineral yang dihasilkan dari proses pencernaan, dan membantu meningkatkan kecerdasan, serta kemampuan kognitif. Saskhya mengatakan semakin banyak jenis bakteri yang dimiliki individu, maka semakin baik dampaknya bagi kesehatan.
Nah, untuk menjaga bakteri baik dalam usus, maka harus menerapkan pola makan sehat dengan gizi seimbang. saskhya mengatakan, pola makan sehat itu sendiri harus diterapkan dari dua arah, yaitu orangtua dan anak.
"Membiasakan makanan sehat untuk anak bertujuan agar kesehatan dan pertumbuhan fisik dan anak terjaga. Meningkatkan fokus, konsentrasi, rasa percaya diri. Kalau anak mengonsumsi makanan sehat, fisiknya bugar sehingga anaknya semangat, konsentrasi saat belajar, percaya diri, dan menjadi unggul," terangnya.
Saskhy mengibaratkan bahwa makanan yang kita makan long term investment.
"Kalau masih kecil mungkin makan yang dimakan belum terlalu tampak dampaknya. Tapi kalau sudah agak dewasa sedikit mungkin akan lebih tampak dan terasa. Nah, kalau makanan yang dikonsumsi tidak sehat, efeknya bisa sulit fokus, daya tangkap kurang dalam menerima suatu materi, mental mudah drop, sering galau dan lain sebagainya. Makanya mengapa penting sekali mengatur makanan yang sehat untuk dikonsumsi, sebab efeknya jangka panjang," terangnya panjang lebar.
Baca Juga: Triple Burden Masalah Gizi di Indonesia Ancam Kesehatan Anak dan Remaja
Meski kecerdasan anak dapat diperoleh dari faktor genetik, kata Saskhya, tetap saja nutrisi yang baik tetap diperlukan, karena stimulasinya berasal dari makanan.
"Percuma saja kalau gen-nya sudah bagus, tetapi dirangsang dengan nutrisi yang baik, maka kecerdasan itu tidak akan keluar," ucapnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Mobil Bekas 60 Jutaan Kapasitas Penumpang di Atas Innova, Keluarga Pasti Suka!
- 5 Sepatu Lokal Senyaman Skechers, Tanpa Tali untuk Jalan Kaki Lansia
- 9 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- Cek Fakta: Viral Ferdy Sambo Ditemukan Meninggal di Penjara, Benarkah?
- 5 Sepatu New Balance yang Diskon 50% di Foot Locker Sambut Akhir Tahun
Pilihan
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
-
In This Economy: Banyolan Gen Z Hadapi Anomali Biaya Hidup di Sepanjang 2025
-
Ramalan Menkeu Purbaya soal IHSG Tembus 9.000 di Akhir Tahun Gagal Total
-
Tor Monitor! Ini Daftar Saham IPO Paling Gacor di 2025
-
Daftar Saham IPO Paling Boncos di 2025
Terkini
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan
-
Kesehatan Gigi Keluarga, Investasi Kecil dengan Dampak Besar
-
Fakta Super Flu, Dipicu Virus Influenza A H3N2 'Meledak' Jangkit Jutaan Orang
-
Gigi Goyang Saat Dewasa? Waspada! Ini Bukan Sekadar Tanda Biasa, Tapi Peringatan Serius dari Tubuh
-
Bali Menguat sebagai Pusat Wellness Asia, Standar Global Kesehatan Kian Jadi Kebutuhan
-
Susu Creamy Ala Hokkaido Tanpa Drama Perut: Solusi Nikmat buat yang Intoleransi Laktosa
-
Tak Melambat di Usia Lanjut, Rahasia The Siu Siu yang Tetap Aktif dan Bergerak