Suara.com - Olahraga memang bagus untuk kesehatan. Namun kegiatan fisik ini tentu tidak boleh dilakukan terlalu sering, karena justru dapat memperburuk kesehatan.
Valerie Stephan, sangat menyukai lari atau joging di pagi hari. Ia memulai olahraga ini 10 tahun yang lalu dengan tujuan untuk meningkatkan kebugaran tubuh. Namun, semakin lama ia justru memprioritaskan olahraga di atas segalanya.
"Aku menyadari bahwa olahraga mengendalikanku, bukan aku yang mengendalikan olahraga. Kontrol itu dengan cepat menjadi obsesi," tuturnya kepada BBC.
Ternyata, obsesinya ini berdampak buruk pada pekerjaan dan segala aspek kehidupannya. "Seiring waktu, olahraga menjadi tidak sehat," sambungnya.
Menurut konsultan psikolog dr. Chetna Kang, dari The Priory Hospital di London utara, kecanduan olahraga berada di bawah kecanduan perilaku, yang mana perilaku seseorang menjadi obsesif, kompulsif, atau menyebabkan disfungsi dalam kehidupan seseorang.
"Sebenarnya, sulit untuk menentukan dengan tepat apa itu kecanduan olahraga," kata seorang konsultan anak dan psikiater remaja berspesialisasi dalam gangguan makan, dr. Caz Nahman.
"Olahraga umumnya bermanfaat bagi kesehatan mental, itu cara yang bagus untuk mengelola depresi ringan atau kecemasan berat. Tetapi berolahraga berlebihan dapat berdampak negatif," tutur dr. Nahman.
Gejala dari olahraga berlebihan termasuk cedera, seperti patah tulang karena tendinitis dan sistem kekebalan tubuh yang rendah.
Wanita berisiko terhadap Female Athlete Triad (FAT), gejalanya yakni hilangnya periode menstruasi, osteoporosis, dan gangguan makan. Sedangkan pada pria, olahraga berlebihan terbukti menurunkan libido.
Baca Juga: Inilah Hal yang Mengganggu Melanie Putria saat Olahraga Lari
Menarik diri dari adrenalin dan endorfin yang dilepaskan saat berolahraga dapat menjadi sangat sulit.
Bagi Valerie, usaha untuk mengurangi jumlah olahraga berdampak kuat pada kesejahteraannya, sering membuat gelisah. Namun, ia sedang masa pemulihan dengan dukungan dari orang-orang di sekitarnya.
"Ini semua tentang melepaskan, tidak terobsesi, belajar untuk tidak mengendalikan segalanya, (dengan) mengatakan, 'kau tidak perlu menjadi sempurna'."
Berita Terkait
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
Terkini
-
Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf
-
Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining
-
Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI