Komunitas Keluarga Ceria Rubella Syndrome Sumut Tanpa Rumah
Masyarakat penting untuk mengetahui bagaimana bersikap suportif pada keluarga atau sekitar yang sedang menerima musibah, sakit, khususnya jika terjadi pada anak-anak.
“Ya, jangan pernah menunjukkan rasa kasihan, wajah mengasihasi itu juga termasuk bisa mempengaruhi psikis anak, orang tua anak, khususnya di sini ayah dan ibu dari pasien anak rubella. Seperti yang kita tahu penyakit ini cukup merenggut panca indera dan merusak organ tubuh si anak. maka saat mengunjunginya sapalah senormal mungkin seperti menyapa atau melihat anak lainnya,” kata Psikolog, Veronica Adesla M.Psi.
Ia menuturkan penting untuk orang-orang di sekitar menyapa seperti biasa, mengajak bermain atau bercanda, atau memberikan dukungan pada orang tuanya dengan bantuan yang dibutuhkan.
“Ya tawarkan bantuan apa yang dibutuhkan, jangan menunjukkan rasa iba, tapi rangkul layaknya teman membutuhkan teman,” tambahnya.
Veronika juga mengimbau agar tidak ada oknum mengeksploitasi penyakit pasien anak untuk popularitas atau kampanye. Ya kalau membantu ya bantu saja, jangan diekspose apalagi memberi harapan palsu.
Menurutnya, psikis seseorang bisa sangat hancur dan kecewa saat diberikan harapan terkait kelangsungan hidup orang terkasihnya. “Ya seperti kita tahu biaya pengobatan dan perawatan penyakit rubella pada anak itu mahal, jadi wajar orang tua akan bahagia sangat saat mendapat harapan, dan akan sangat jatuh dan terpukul saat tidak direalisasi,” jelasnya.
Integritas oknum tersebut tentu sangat buruk jika niatnya mengekploitasi penyakit pasien anak hanya untuk kampanye atau popularitas, tambahnya.
Ia pun menuturkan penting untuk mental dan psikis orang tua pasien anak rubella untuk memiliki sistem dukungan dan komunitas berbagi pada orang tua pasien anak dengan penyakit yang sama.
“Ya sharing itu sangat mendukung, menguatkan mereka kalau mereka tidak sendiri, dan pasti bisa melewatinya. Saling memberikan masukan, informasi dan support,” jelasnya.
Baca Juga: Pekan Imunisasi Dunia 2019, Jauhkan Hoaks Vaksin dari Keluarga
Hal itupula yang diharapkan komunitas Keluarga Ceria Rubella Syndrome Sumut (KERSS), Ratih Rachmadona, orang tua pasien anak rubella, IF.
Ratih, menuturkan, KERSS sudah mengumpulkan orang tua pasien anak rubella se-Sumatera Utara. Mereka pun rutin melakukan sharing dan dukungan untuk saling menguatkan.
“Namun kendalanya, Keluarga Ceria Rubella Syndrome Sumut tanpa rumah. Ya kami belum mendapatkan rumah ramah singgah, mengingat hanya 1 rumah sakit yang dirujuk untuk pasien anak rubella yakni rumah sakit Adam Malik, tapi banyak orang tua yang harus bolak-balik dari daerah dan mengunjungi pintu ke pintu.
“Ya untuk saat ini pertemuan dilakukan lewat komunikasi media sosial atau saat bertemu di rumah sakit, kami berharap sekali dalam hal ini pemerintah dinas kesehatan khususnya menyediakan rumah singgah atau rumah ramah rubella,” tambahnya.
Sementara itu, Kusuma, ayah IF, Ketika ditanya bagaimana kepedulian dan kesensitifan sekitar terhadap rubella pasca anaknya menjadi penyintas, Kusuma cuma bisa tertawa kemudian terdiam menghela napas.
“Bahkan tetangga, orang sekitar, keluarga masih banyak yang tidak tahu apa itu rubella, lelah menjelaskan dan berulang ditanya lagi. Tak peduli juga mereka walaupun tahu bagaimana dampaknya dan pentingnya melakukan imunisasi dan vaksin MR untuk mencegah rubella ini, entah di mana salahnya, mungkin sosialisasi,” katanya.
Kusuma pun mengharapkan kejelasan pemerintah dan lembaga tertentu terhadap penanganan pasien anak rubella. "Ya karena selama ini kami hanya diajak untuk sosialisasi agar masyarakat tahu ini lho pasien rubella, setelah itu tidak ada bimbingan dan bantuan lagi," tambahnya.
Sumut Masuk Zona Merah Penyakit Rubella
Ya, Virus campak rubella kini mengancam anak di Sumatera Utara (Sumut). Provinsi Sumut menjadi salah satu provinsi di Indonesia yang masuk zona merah untuk penyakit campak dan rubella menurut data di 2018. Bahkan beberapa daerah di Sumatera Utara tidak melakukan imunisasi untuk mencegah penyakit yang rentan menyerang anak-anak tersebut.
“Hasil cakupan kampanye campak dan rubella di Sumut yang dtargetkan oleh nasional sebesar 95 persen namun hanya terealisasi 59,8 persen,” kata Suhadi, SKM M.Kes, Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sumut.
Ridesman, Sekretaris Dinas Kesehatan, sekaligus Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Pembantu Dinkes Provinsi Sumut menambahkan, untuk tingkatan cakupan imunisasi perlu dukungan kuat oleh pengambil kebijakan (gubernur, bupati atau walikota), dan lintas sektoral lain.
“Perlunya lagi sosialisasi untuk menyakinkan masyarakat dalam keberhasilan program imunisasi ini. Ya semua dukungan seluruh komponen, baik pemerintah, swasta dan masyakarat harus bergerak,” katanya.
Communication for Development Specialist UNICEF, Rizky Ika Syafitri mengatakan yang penting untuk disosialisasikan adalah imunisasi MR ini harus dilakukan pada anak usia 9 bulan hingga anak di bawah 15 tahun. Hal ini untuk mencegah riwayat penyakit campak dan rubella agar tidak menularkan campak pada ibu hamil yang berbahaya pada janin.
Menurutnya, campak untuk anak-anak yang sudah tumbuh hingga orang dewasa cuma berupa badan meriang dan bintik-bintik merah. Tapi, kalau sampai tertular pada ibu hamil yang kemudian menularkannya pada janin, ini yang sangat berbahaya.
“Ini yang menjadi poin pentingnya, menyosialisasikan ibu-ibu agar anaknya diimunisasi untuk melindungi ibu hamil di sekitar lingkungan mereka,” jelasnya saat memaparkan paparan Imunisasi dan Vaksin MR di acara AJI dan UNICEF beberapa waktu lalu.
Sementara itu Dokter Arifianto, Sp, A, yang juga penulis buku Pro-Kontra Imunisasi di Indonesia, menuturkan, penting untuk menyosialisasikan bahaya virus rubella atau campak bukan menyasar orang dewasa melainkan janin pada ibu hamil.
“Ya, pencegahan rubella pada bayi adalah (dengan) vaksin. Namun bagi daerah atau kawasan yang tidak capai target vaksin MR, para ibu muda atau calon ibu yang khawatir janinnya kelak tertular virus tersebut bisa mencegahnya dengan suntik vaksin Mom Measles Rubella (MMR) di rumah sakit, ya tapi itu pribadi karena tidak dari kampanye pemerintah,” jelasnya saat diwawancarai beberapa waktu lalu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 6 Sepeda Lipat Alternatif Brompton, Harga Murah Kualitas Tak Kalah
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
Pilihan
-
Persib Resmi Rekrut Striker Madrid Sergio Castel, Cuma Dikasih Kontrak Pendek
-
Prabowo Tunjuk Juda Agung jadi Wamenkeu, Adies Kadir Resmi Jabat Hakim MK
-
Lakukan Operasi Senyap di Bea Cukai, KPK Amankan 17 Orang
-
Juda Agung Tiba di Istana Kepresidenan, Mau Dilantik Jadi Wamenkeu?
-
Viral Dugaan Penganiayaan Mahasiswa, UNISA Tegaskan Sanksi Tanpa Toleransi
Terkini
-
Melawan Angka Kematian Kanker yang Tinggi: Solusi Lokal untuk Akses Terapi yang Merata
-
Atasi Batuk Ringan hingga Napas Tidak Nyaman, Pendekatan Nutrisi Alami Kian Dipilih
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini
-
Solusi Bijak Agar Ibu Bekerja Bisa Tenang, Tanpa Harus Mengorbankan Kualitas Pengasuhan Anak
-
Dokter Saraf Ungkap Bahaya Penyalahgunaan Gas Tawa N2O pada Whip Pink: Ganggu Fungsi Otak!
-
Tidak Semua Orang Cocok di Gym Umum, Ini Tips untuk Olahraga Bagi 'Introvert'