Suara.com - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta adik dari anak yang menjadi pelaku pembunuhan di Sawah Besar, Jakarta Pusat untuk turut mendapatkan perhatian secara psikologis dan rehabilitasi.
"KPAI mendorong agar si anak saksi kita harapkan dirujuk kepada psikolog yang bisa memberikan assessment atau rehabilitasi kalau ditemukan kelainan psikis," kata Komisioner KPAI Bidang Anak Berhadapa Hukum, Putu Elvina dalam konferensi pers di kantor KPAI, Jakarta, Senin (9/3/2020).
Putu mengatakan, penyidik perlu memastikan apakah adik pelaku pembunuhan tersebut berada di lokasi kejadian saat pembunuhan terjadi atau tidak.
Sehingga untuk memastikan hal itu, adik pelaku yang masih berusia sekitar 5-6 tahun tersebut akan dimintai keterangan sebagai saksi.
"Karena anak saksi sangat belia, tentu tidak mudah mendengar keterangan saksi. Bisa jadi petunjuk, bisa tidak. Kalau dia tidak bisa bersaksi tentu tidak mungkin didengarkan keterangan saksinya di pengadilan," jelasnya.
Putu juga mengingatkan bahwa dalam sistem peradilan anak, penyidik hanya memiliki waktu 15 hari untuk melakukan penyidikan. Juga sekaligus menunggu hasil assessment untuk menentukan status anak pelaku di depan hukum.
"Kalau 15 hari tidak dikejar dengan baik nanti ada pelanggaran lain," kata Putu lagi.
Seperti diketahui sebelumnya, seorang anak remaja berusia 15 tahun menjadi tersangka pembunuhan bocah berusia 6 tahun di Sawah Besar, Jakarta Pusat. Korban merupakan teman sepermainan dari adik pelaku pembunuhan keji tersebut.
Baca Juga: Manchester United Berjaya di Derby, Ole Kembali Puji Habis Bruno Fernandes
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia
-
Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh
-
Tips Memilih Susu Berkualitas, Nutrisionis: Perhatikan Sumber dan Kandungannya
-
Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik