Suara.com - Penyebaran virus corona Covid-19 ke lebih dari 100 negara dunia membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan penyakit ini sebagai pandemi.
Beragam cara dilakukan untuk mencegah penyebaran, salah satunya dengan mengupayakan herd immunity.
Sebelumnya, beberapa negara juga telah melakukan lockdown atau pembatasan akses baik keluar atau pun masuk ke negara tersebut.
Sementara sejumlah negara lainnya juga mengusulkan untuk melakukan herd immunity.
Lantas, apa yang dimaksud dengan herd immunity? Seberapa efektifkah cara itu untuk menekan penularan?
Saat banyak orang di suatu komunitas atau masyarakat yang telah mendapat vaksin suatu penyakit, ini membuat penyakit itu lebih sulit menyebar ke individu yang rentan dan belum mendapat vaksinasi.
Kondisi itulah yang dikenal sebagai herd immunity atau kekebalan kelompok. Demikian seperti dilansir dari The Independent.
Untuk mempermudah memahaminya, The Vaccine Knowledge Project, membuat penjelasan lebih rinci mengenai herd immunity. Seperti apa? Simak di halaman selanjutnya.
Untuk mempermudah memahami tentang herd immunity, The Vaccine Knowledge Project menggunakan salah satu analogi, yaitu kasus campak.
Baca Juga: Rasanya Manis dan Lembut, Tisu Toilet Ini Ternyata Bisa Dimakan
“Jika seseorang dengan campak dikelilingi oleh orang-orang yang divaksinasi campak, penyakit itu tidak mudah ditularkan kepada siapapun, dan penyakit itu akan segera hilang lagi,” kata organisasi itu.
Hal itu yang disebut herd immunity atau kekebalan kawanan dan atau kekebalan komunitas.
Herd immunity memberikan perlindungan kepada orang-orang yang rentan seperti bayi baru lahir, orang tua dan mereka yang terlalu sakit untuk divaksinasi
Namun, organisasi tersebut menekankan bahwa kekebalan kelompok hanya berfungsi jika mayoritas populasi telah divaksinasi terhadap suatu kondisi.
Mereka juga menambahkan bahwa herd immunity tidak melindungi tubuh dari semua penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin.
“Tidak seperti vaksinasi, kekebalan kawanan tidak memberikan tingkat perlindungan individu yang tinggi. Jadi, itu bukanlah alternatif yang baik untuk mendapatkan vaksinasi,” kata The Vaccine Knowledge Project.
Profesor Mark Woolhouse, seorang profesor epidemiologi penyakit menular di University of Edinburgh, mengatakan bahwa konsep kekebalan kawanan adalah "dasar dari semua program vaksinasi".
Namun, itu juga dapat terjadi secara alami. Ia menjelaskan, bahwa jika seorang telah terpapar infeksi apapun hingga membuat banyak orang tertular, hal itu bisa mengembangkan antibodi dan membuat masyarakat kebal terhadapnya.
Ini membuat munculnya kekebalan komunitas secara alami. Virus itu juga tidak akan dapat menyebabkan epidemi pada populasi.
"Itu tidak berarti tidak akan bisa menyebar karena masih ada beberapa orang yang rentan, tetapi itu tidak akan lepas landas dan menyebabkan epidemi," katanya.
Lantas apa pula pendapat profesor lainnya terkait hal tersebut? Lanjut di halaman berikutnya.
Profesor Paul Hunter, seorang profesor kedokteran di Universitas East Anglia menambahkan bahwa herd immunity adalah "indikasi proporsi orang yang kebal dalam suatu populasi".
“Hubungan proporsi orang yang kebal yang Anda butuhkan untuk mencegah epidemi bervariasi dari infeksi ke infeksi,” jelasnya.
"Dengan sesuatu seperti campak yang sangat menular, Anda membutuhkan sekitar 90 persen orang yang kebal, tetapi dengan infeksi lain Anda bisa sembuh dengan jauh lebih sedikit."
Menurut sebuah makalah 2011 yang diterbitkan dalam jurnal medis Clinical Infectious Diseases, meski istilah herd immunity banyak digunakan, hal itu bisa membawa makna yang berbeda.
Akademisi dari London School of Hygiene dan Tropical Medicine menulis bahwa meski beberapa penulis menggunakan istilah ini untuk menggambarkan proporsi individu dalam suatu komunitas yang kebal terhadap suatu kondisi, yang lain menggunakannya dalam referensi untuk “proporsi ambang tertentu dari individu imun yang seharusnya menyebabkan penurunan kejadian infeksi"
Meski demikian, manajer The Vaccine Knowledge Project Tonia Thomas, menjelaskan bahwa prospek mengembangkan kekebalan terhadap suatu kondisi melalui infeksi, dibanding melalui vaksinasi, bisa berbahaya. Ini membuat orang berisiko mengembangkan komplikasi dari penyakit".
"Vaksin adalah cara yang lebih aman untuk mengembangkan kekebalan, tanpa risiko yang terkait dengan penyakit itu sendiri," kata Thomas.
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo JSM Superindo Minggu Ini, Kue Lebaran dan Biskuit Kaleng Cuma Rp15 Ribuan
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Palembang
- Apakah Ada Penukaran Uang Baru BI Pintar Periode 3? Ini Pengumuman Pastinya
- 5 Body Lotion Terbaik untuk Memutihkan Kulit Sebelum Lebaran
- Di Balik Serangan ke Iran: Apa yang Ingin Dicapai AS dan Israel?
Pilihan
-
Persebaya Babak-belur di Kandang Borneo FC, Ini Dalih Bernardo Tavares
-
Here We Go! Elkan Baggott Kembali Dipanggil ke Timnas Indonesia
-
Sejumlah Artis Mendatangi Rumah Duka Vidi Aldiano, Wartawan Dilarang Masuk
-
Setelah Bertahun-tahun Berjuang, Inilah Riwayat Kanker Ginjal Vidi Aldiano
-
Vidi Aldiano Meninggal Dunia Sabtu 7 Maret Pukul 16.33 WIB
Terkini
-
Vaksin Campak Apakah Gratis? Ini Ketentuannya
-
Tak Hanya Puasa, Kemenkes RI Sarankan Kurangi Garam, Gula, dan Lemak saat Ramadan
-
Gaya Hidup Sehat dan Aktif Makin Jadi Pilihan Masyarakat Modern Indonesia
-
Empati Sejak Dini, Ramadan Jadi Momen Orang Tua Tanamkan Nilai Kebaikan pada Anak
-
Stop Target Besar! Rahasia Konsisten Hidup Sehat Ternyata Cuma Dimulai dari Kebiasaan Kecil
-
Bibir Sumbing pada Bayi: Penyebab, Waktu Operasi, dan Cara Perawatannya
-
5 Rekomendasi Susu Kambing Etawa untuk Jaga Kesehatan Tulang dan Peradangan pada Sendi
-
Mencetak Ahli Gizi Adaptif: Kunci Menghadapi Tantangan Malnutrisi di Era Digital
-
Tips Memilih Klinik Tulang Terpercaya untuk Terapi Skoliosis Non-Operasi
-
Presisi dan Personalisasi: Arah Baru Perawatan Kanker di Asia Tenggara