Suara.com - Di tengah kemelut panik dan kekhawatiran akibat pandemi virus corona Covid-19, terselip banyak humor atau meme-meme yang beredar di kalangan warganet Indonesia. Dan tak sedikit meme yang mengundang tawa meski hati tengah miris dengan kondisi yang ada di depan mata. Tak apa, tertawa memang penting untuk kesehatan jiwa.
Dalam siaran podcast bersama dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ (Noriyu) yang menghadirkan narasumber psikiater dr. Andreas Kurniawan, SpKJ, kedua psikiater membahas mengenai humor dan tertawa yang merupakan bagian penting dari kesehatan jiwa atau mental.
Menurut dr. Andre, semua orang sebenarnya memiliki rasa humor. rasa humor ini bahkan sudah ada sejak lahir, dan tidak pernah diajarkan oleh orangtua dan sekeliling kita. Ini sama seperti rasa takut, namun perbedaannya adalah seiring kita bertambah usia, rasa humor ditekan karena disebut tidak sesuai usia.
"'Oh kamu tuh sudah dewasa, kamu nggak boleh becanda, kamu harus serius'. Jadi terbentuklah mental seperti itu," kata dr. Andre, seperti dikutip Suara.com pada Rabu (25/3/2020).
Padahal, humor adalah salah satu cara mengendalikan atau mengurangi rasa stres yang terjadi dalam diri kita. Hal ini dibuktikan dalam salah satu buku yang ditulis oleh dr. Andre, yakni Buku Ajar Koas Racun, yang berisi humor-humor seputar dunia medis.
Ada satu candaan yang dicontohkan dr. Andre dari dalam bukunya, yakni "Dengan menguasai bahasa Latin, Anda dengan mudah dapat berubah dari si manusia cupu belajar terus, menjadi si gagah berbahasa keren."
Dengan humor tersebut ia mencoba untuk mengubah sesuatu yang seharusnya membuat tegang (belajar bahasa Latin dalam dunia medis) menjadi ringan. Dalam teori psikologi, ia mengubah cognitive strain di mana kondisi otak menjadi tegang, diubah ke dalam kondisi cognitive ease yang menyenangkan.
"Ketika kita mengubah sesuatu yang menengangkan jadi menyenangkan, itu lebih mudah diterima," tuturnya.
Ini juga yang terjadi di media-media sosial belakangan ini, di mana orang lebih mudah merespon suatu kejadian dengan meme atau humor. Hal ini disebabkan orang sulit menerima berita buruk dengan kondisi cognitive strain karena lebih menyakitkan.
Baca Juga: Pilu, Kisah Pria Suriah Ajarkan Putrinya Tertawa Setiap Dengar Ledakan Bom
Sehingga kemunculan meme ataupun humor tersebut mengubah kondisi ini menjadi cognitive ease yang menyenangkan. Tanpa mengetahui teori tersebut pun, semua orang bisa melakukannya. Tentunya dengan etika yang benar.
"Kalau kita mau ngebecandain orang, target kita adalah laught with them, not laugh at them. Jadi kita ngajak mereka untuk tertawa, bukan menertawakan dia," jelas dr Andre.
Etika becanda yang benar adalah ketika humor tersebut tidak membuat mereka menderita karena becandaan kita. Hal inilah yang cukup miris terjadi dengan humor prank yang ada di mana-mana sekarang ini, becanda menjadi salah kaprah dan berujung bencana bagi orang lain.
Dan tidak tentu humor itu selalu membuat orang tertawa. Menurut dr. Andre, asalkan kita bisa mengubah situasi dari tegang menjadi ringan dan lebih menyenangkan, maka itu juga bisa termasuk humor.
"Para pembuat humor kayaknya harus bisa mengukur, mana yang sebenarnya humor itu sehat, dan humor itu tidak sehat dan tidak layak untuk dinikmati untuk netizen," timpal Noriyu.
Noriyu menambahkan bahwa humor itu bukan untuk menyenangkan orang semata, tapi humor itu juga untuk menyehatkan kita secara kejiwaan. Tapi terkadang keadaan ini justru berbalik karena orang malah menjadi stres karena berusaha untuk menyenangkan orang lain.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- Danantara Sumberdaya Indonesia Batal Beroperasi Penuh, Pemerintah Mundurkan Skema Ekspor SDA di 2027
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
Pilihan
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
Terkini
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengapa Lupus Lebih Banyak Menyerang Wanita?
-
Hoops + Health Youth Basketball Festival 2026 Dorong Generasi Muda Hidup Sehat & Melek Finansial
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien