Suara.com - Sebanyak 150 Pasien Covid-19 di Indonesia dinyatakan Sembuh, Benarkah Jadi Kebal?
Juru bicara pemerintah untuk Covid-19, Achmad Yurianto, kembali menginformasikan penambahan kasus positif virus corona atau Covid-19 di Indonesia.
Ia menyebut bahwa ada 106 kasus baru, sehingga jumlah total kasus Covid-19 di Indonesia mencapai 2.092 kasus.
"Kami merekap kembali seluruh data, (dan) prihatin penambahan kasus konfirmadi positif 106 kasus, sehingga totalnya mencapai 2092 kasus konfirmasi positif dengan menggunakan pemeriksaan molekuler," ujar Yurianto di Graha BNPB, Jakarta Timur, Sabtu (4/4/2020).
Dari data tersebut ia menyayangkan masih ada korban meninggal dunia sebanyak 10 orang, sehingga mereka yang berpulang mencapai 191 korban jiwa.
Kabar baiknya, ada penambahan 16 orang yang dinyatakan sembuh dengan 2 kali pemeriksaan negatif. Sehingga jumlah total kesembuhan mencapai 150 orang. Dirjen P2P Kemenkes ini memastikan 150 orang yang sembuh dan boleh pulang ini memiliki imunitas dan kekebalan terhadap virus.
"Kita bersyukur ada 16 saudara kita yang sudah sembuh, dan 2 kali pemeriksaan berturut-turut, total menjadi 150 orang. Kondisi yang sembuh bagus, tidak perlu dikhawatirkan lagi, tidak menularkan penyakit. Kita yakini 150 orang ini punya imunitas dan kekebalan terhadap virus Covid-19," terang Yurianto panjang lebar.
Namun, benarkah mereka yang telah dinyatakan sembuh bisa kebal terhadap virus Corona Covid-19?
Seperti dilansir dari Time, para ahli mengatakan setelah seorang terinfeksi akan muncul respon antibodi tubuh. Sehingga tidak mungkin bahwa pasien yang telah pulih dari COVID-19 dapat terinfeksi ulang segera setelah tertular virus.
Baca Juga: Koma 10 Hari akibat Corona Covid-19, Pria Ini Tak Ingat Istri dan Anaknya!
Antibodi biasanya diproduksi di tubuh pasien sekitar tujuh hingga 10 hari setelah serangan awal virus, kata Vineet Menachery, seorang ahli virologi di University of Texas Medical Branch.
Sebaliknya, seorang yang dites positif setelah dinyatakan bisa jadi tes terakhir menghasilkan false negative yang artinya bahwa pasien masih terinfeksi.
"Mungkin karena kualitas spesimen yang mereka ambil dan mungkin karena tes itu tidak begitu sensitif," jelas David Hui, seorang ahli pengobatan pernapasan di Universitas Cina Hong Kong yang juga mempelajari wabah SARS.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi
-
Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat
-
Perawatan Gigi Anak yang Nyaman, Bantu Si Kecil Tumbuh dengan Senyum Sehat dan Percaya Diri
-
Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance