Suara.com - Masa isolasi mandiri selama wabah virus corona Covid-19 tidak hanya membatasi ruang gerak seseorang, tetapi juga memengaruhi kondisi mental. Masa-masa seperti ini bisa menyebabkan kecemasan dan serangan panik pada seseorang.
Jika Anda salah satu orang yang belum pernah merasakan serangan panik, mungkin gejalanya akan terasa menakutkan ketika pertama kali.
Adapun gejala serangan panik, meliputi detak jantung kencang, berkeringat, anggota tubuh gemetar, sesak napas, pingsan, mual dan perasaan takut. Anda mungkin mengalami salah satu dari semua gejala atau justru lebih.
Dilansir dari Metro, biasanya serangan panik akan berlangsung beberapa menit hingga 20 menit. Jika Anda belum pernah merasakannya, mungkin Anda mengalami kondisi ini hanya selama masa pandemi virus corona Covid-19.
Setiap orang yang mengalami serangan panik pun memiliki penanganan yang berbeda. Tapi, cara paling umum untuk mengendalikannya adalah bermeditasi dan latihan pernapasan.
Latihan pernapasan sederhana membantu melepaskan aliran nitrak oksida dalam tubuh dan menenangkan detak jantung.
Menurut American Institute of Stress, mengambil napas dalam atau pernapasan perut selama 20-30 menit per hari bisa mengurangi kecemasan dan stres. Jadi, latihan pernapasan ini tidak hanya berguna saat mengalami serangan panik, tetapi juga bisa menjadi langkah pencegahan.
Cara latihan pernapasan
Helena Bourdillon, seorang pelatih pernapasan yang juga pernah menggunakan tekniknya untuk melawan depresi, mengatakan latihan ini tidak akan menyembuhkan seseorang dari infeksi virus corona Covid-19.
Baca Juga: Bukan Riza Shahab, Tapi Artis Reza Alatas yang Ditangkap Polisi
"Latihan pernapasan ini akan membuat kita merasa lebih tenang dan tubuh merespons dengan baik. Secara fisik, kita bisa meningkatkan atau meringankan banyak penyakit," jelasnya.
Menurutnya, latihan pernapasan ini akan membantu seseorang secara mental. Adapun teknik pernapasan untuk mengatasi serangan panik dan masalah mental lainnya, yakni:
1. Tarik napas masuk dan keluar dari hidung
2. Duduk tegak (atau sedikit bersandar) untuk membantu menarik udara ke bagian bawah paru-paru supaya perasaan lebih lega
3. Napaslah lebih dalam untuk merangsang sistem saraf dan perlahan rentangkan napas saat merasa rileks
"Jika Anda sudah merasakan lebih rileks, maka perlambat hitungannya untuk mengatasi stres," jelasnya.
Menurut Helena, aspek yang paling penting dari teknik pernapasan ini adalah bernapas melalui hidung karena ada beberapa alasan khusus.
"Hidung dan sinus kita mengambil sekitar 30 persen dari ruang di tengkorak untuk menyaring, menghangatkan, melembapkan udara dan memproduksi nitric oxide," tuturnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
- Pakai Paspor Belanda saat Perpanjang Kontrak 2025, Status WNI Dean James Bisa Gugur?
- Pajaknya Nggak Bikin Sengsara: Cek 5 Mobil Bekas Bandel di Bawah 70 Juta untuk Pemula
Pilihan
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
Terkini
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi
-
Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!
-
Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?
-
Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung
-
Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman
-
Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi
-
Cedera Lutut hingga Bahu Paling Banyak Dialami Atlet dan Penggemar Olahraga
-
Jelang Lebaran, Korban Banjir Aceh Tamiang Dibayangi ISPA hingga Diare: Imunitas Harus Diperhatikan
-
Deteksi Dini dan Kebijakan Ramah Lingkungan: Solusi Terpadu untuk Menangani Penyakit Ginjal