Suara.com - Waspada Resep Antibiotik Saat Konsultasi Telemedicine, Ini Bahayanya
Pandemi Covid-19 seperti saat ini membuat banyak orang berpikir ulang untuk pergi ke rumah sakit. Pada dasarnya, alasan umum orang tak berani ke rumah sakit atau klinik kesehatan adalah karena ada anggapan bahwa rumah sakit sebagai salah satu lokasi transmisi virus corona paling tinggi.
Melihat kondisi tersebut, banyak orang memilih melakukan konsultasi secara online atau memanfaatkan layanan telemedicine.
Sayangnya, layanan ini dianggap memiliki kelemahan. Salah satunya risiko diagnosis penyakit yang kurang akurat akibat dilakukan tanpa bertemu langsung dan hanya mengandalkan obrolan melalui tertulis atau video.
Bahkan di media sosial, beberapa orang menyoroti keputusan dokter yang meresepkan antibiotik padahal hanya melakukan konsultasi secara online.
Seperti yang diketahui sebelumnya, antibiotik tidak bisa diberikan sembarangan karena bisa menimbulkan efek resistensi atau kekebalan antibiotik yang berbahaya.
Mengutip Hello Sehat, Suara.com merangkum empat bahaya mengonsumsi antibiotik tanpa resep sesuai.
1. Kekebalan bakteri dari antibiotik
Kekebalan antibiotik ini terjadi empat tahun setelah Alexander Fleming menemukan antibiotik penisilin pada 1960. Sebelumnya, Fleming dengan percaya diri mengatakan bahwa obat yang ia temukan dapat menyudahi wabah dan dapat digunakan untuk mengobati infeksi akibat perang dunia kedua.
Tapi empat tahun kemudian, penisilin tidak mampu mengobati semua luka infeksi, dan yang ada adalah masalah kekebalan antibiotik, yakni kemampuan bakteri menahan efek obat dan bakteri tidak mati setelah pemberian antibiotik.
Baca Juga: Gadis SMP Dibunuh, Mayatnya Dibuang ke Kebun Ditemukan Tinggal Tengkorak
2. Jumlah bakteri kebal antibiotik semakin banyak
Pemberian antibiotik yang terus-menerus dan sembarangan bisa menyebabkan jumlah bakteri yang kebal terhadap obat meningkat beberapa tahun terakhir, fenomena ini ditemukan menyebar di seluruh dunia.
Adapun daftar infeksi bakteri yang sudah resisten adalah pneumonia, tuberkolosis (TBC), gonore, dan lain sebagainya. Sama dengan flu, TBC menyerang paru-paru dan bisa menular dengan cepat. Padahal bakteri TBC yang menyebar adalah bakteri yang sudah kebal dari obat yang ada saat ini dan dapat menyebabkan pengobatan semakin sulit.
3. Meningkatkan biaya pengobatan
Resistensi atau kekebalan terhadap obat membuat biaya pengobatan meningkat karena waktu pengobatan yag akan menjadi lebih lama, bahkan menyebabkan kematian.
Di Eropa kekebalan bakteri terhadap obat menyebabkan kerugian 15 juta dolar atau setara Rp 240 miliar untuk biaya kesehatan, hilangnya produktivitas pekerjaan. Resistensi obat juga menyebabkan waktu rawat inap yang bertambah dari biasanya hanya 4 hari menjadi di ICU rata-rata selama 4,65 hari.
4. Meningkatkan kematian
Karena angka kesembuhan menjadi rendah, maka tingkat kematian akibat kekebalan antibiotik menjadi tinggi. Di Eropa sendiri sudah terjadi 25.000 kematian yang disebabkan oleh infeksi bakteri yang kebal terhadap obat setiap tahunnya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh WHO menyimpulkan angka kematian infeksi E. coli dua kali lipat lebih tinggi pada bakteri yang kebal terhadap obat, dibanding bakteri yang tidak kebal. Bahkan pada infeksi pneumonia angka ini berkisar 1,9 kali lipat dan 1,6 kali lipat pada infeksi S. aureus.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apakah Habis Pakai Cushion Perlu Pakai Bedak? Ini 5 Rekomendasi Cushion SPF 50
- Mulai Tahun Ini Warga RI Mulai Frustasi Hadapi Kondisi Ekonomi, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
- 34 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 20 Januari: Sikat TOTY 115-117 dan 20.000 Gems
- Deretan Mobil Bekas 80 Jutaan Punya Mesin Awet dan Bandel untuk Pemakaian Lama
- Jadwal M7 Mobile Legends Knockout Terbaru: AE di Upper, ONIC Cuma Punya 1 Nyawa
Pilihan
-
Ekonomi Tak Jelas, Gaji Rendah, Warga Jogja Berjuang untuk Hidup
-
Rebut Hadiah Berlimpah! Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel Jadi Penggerak Potensi Daerah
-
ASEAN Para Games 2025: Nurfendi Persembahkan Emas Pertama untuk Indonesia
-
Perbedaan Jaring-jaring Kubus dan Balok, Lengkap dengan Gambar
-
Rupiah Loyo, Modal Asing Kabur Rp 27 Triliun Sejak Awal Tahun
Terkini
-
Fokus Turunkan Stunting, PERSAGI Dorong Edukasi Anak Sekolah tentang Pola Makan Bergizi
-
Bukan Mistis, Ini Rahasia di Balik Kejang Epilepsi: Gangguan Listrik Otak yang Sering Terabaikan
-
Ramadan dan Tubuh yang Beradaptasi: Mengapa Keluhan Kesehatan Selalu Datang di Awal Puasa?
-
Rahasia Energi "Anti-Loyo" Anak Aktif: Lebih dari Sekadar Susu, Ini Soal Nutrisi yang Tepat!
-
Sinergi Medis Indonesia - India: Langkah Besar Kurangi Ketergantungan Berobat ke Luar Negeri
-
Maia Estianty Gaungkan Ageing Gracefully, Ajak Dewasa Aktif Waspada Bahaya Cacar Api
-
Kolesterol Tinggi, Risiko Diam-Diam yang Bisa Berujung Stroke dan Serangan Jantung
-
Telapak Kaki Datar pada Anak, Normal atau Perlu Diperiksa?
-
4 Rekomendasi Minuman Diabetes untuk Konsumsi Harian, Mana yang Lebih Aman?
-
Apa Itu Food Genomics, Diet Berbasis DNA yang Lagi Tren