Suara.com - Saat berbuka puasa Ramadan, kebanyakan orang cenderung mengonsumsi makanan dan minuman apapun. Padahal metabolisme tubuh Anda sedang melambat karena sudah menahan makan dan minum dalam waktu lama.
Di sisi lain, beberapa orang mungkin juga mengeluhkan perut kembung ketika menjalani ibadah puasa Ramadan.
Karena dilansir oleh Arab News, beberapa makanan dan minuman bisa membuat perut kembung, meskipun tergolong makanan sehat.
Adapun makanan sehat yang bisa menyebabkan perut kembung, antara lain kacang (merah, kedelain dan hijau), lentil dan buncis. Semua makanan itu adalah sumber kalsium, vitamin B, magnesium, folat dan seng yang baik.
Makanan itu juga tinggi protein, penuh serat, kaya antioksidan, rendah lemak dan memiliki indeks glikemik rendah untuk mengendalikan gula darah. Semua makanan itu juga membantu meningkatkan kadar koleterol dan melindungi jantung serta usus.
Sayangnya, makanan sehat itu semua bisa menyebabkan perut kembung ketika berpuasa. Kondisi ini disebabkan oleh oligosaccharides dan serat.
Oligosaccharides adalah jenis gula yang tidak bisa dicerna oleh usus halus sepenuhnya. Jenis gula itu juga langsung menuju usus besar, tempat bakteri memecahnya.
Proses inilah yang menyebabkan fermentasi dan produksi gas. Prinsip yang sama juga berlaku untuk makanan lain yang masuk ke usus besar tanpa diserap oleh usus kecil.
Semua makanan jenis itu pasti akan menghasilkan gas dan membuat perut kembung. Beberapa contohnya, bawang putih, bawang merah, kacang polong dan kubis.
Baca Juga: 5 Wanita Hamil di Inggris Meninggal karena Virus Corona Covid-19
Meski begitu, ada cara yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi perut kembung, antara lain:
1. Rendam kacang dalam banyak air semalaman sebelum diolah untuk dikonsumsi.
2. Jika Anda tidak punya cukup waktu untuk merendam kacang semalaman, masukkan ke dalam air dan didihkan. Kemudian, rendam selama beberapa jam sebelum mengganti air dan rebus kembali.
3. Jangan menggunakan air rendaman untuk memasak kacang. Karena, air rendaman itu berfungsi untuk menghilangkan oligosakarida dalam kacang yang tidak bisa dicerna dan menyebabkan kembung.
4. Minumlah air yang cukup untuk membantu sistem pencernaan menangani peningkatan serat makanan.
5. Makanlah makanan yang menyebabkan kembung ini dalam jumlah kecil, misalnya kacang, tidak lebih dari secangkir per makan. Anda memerlukan makanan itu hanya sebagai sumber protein, jadi Anda perlu menambahkan makanan dengan tepung, seperti nasi agar kenyang.
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Iran Hancurkan Radar FP132 AS di Qatar, Amerika Kini 'Buta' dari Serangan Rudal Balistik?
-
Prabowo Siap Terbang ke Teheran, Damaikan Perang AS-Israel Vs Iran
-
AS dan Israel Bom Sekolah Khusus Putri di Iran, 36 Siswi Tewas
-
Pernyataan Resmi Kemlu RI soal Serangan AS-Israel ke Iran: Indonesia Siap Fasilitasi Dialog
-
Perang Meluas di Timur Tengah: Iran Hantam Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Kuwait dan Uni Emirat Arab
Terkini
-
Presisi dan Personalisasi: Arah Baru Perawatan Kanker di Asia Tenggara
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia