Suara.com - Para dokter memperingatkan pada setiap orang tua, rumah sakit, dan klinik harus bersiap untuk mendapati lebih banyak kasus kondisi membingungkan yang tampaknya mempengaruhi anak-anak setelah terinfeksi Covid-19, pada konferensi pers, Rabu (13/5/2020).
Kondisi yang disebut sindrom inflamasi multisistem pada anak-anak, tampaknya merupakan sindrom pasca-virus, kata Dr. Jeffrey Burns, spesialis perawatan kritis di Rumah Sakit Anak Boston yang telah mengoordinasikan sekelompok dokter global yang membandingkan catatan mengenai kondisi ini.
Saat ini, dilansir CNN Internasional, para dokter tengah menyelidiki kasus pada setidaknya 150 anak, kebanyakan dari mereka berada di New York, AS. Tetapi survei yang dilakukan CNN menemukan, rumah sakit dan klinik di kurang lebih 17 negara bagian dan Washington, DC, sedang memeriksa dugaan kasus yang sama.
"Sindrom inflamasi multisistem ini tidak secara langsung disebabkan oleh virus. Hipotesis utamanya, ini disebabkan oleh respon imun pasien," jelas Burns.
Gejalanya berupa demam persisten, peradangan dan fungsi yang buruk pada organ seperti ginjal atau jantung. Anak-anak juga dapat memiliki tanda peradangan pembuluh darah, seperti mata merah, lidah merah cerah, dan bibir pecah-pecah, ujar Dr. Moshe Arditi, pakar penyakit menular anak di Cedars-Sinai Medical Center di Los Angeles.
Direktur Departemen Kesehatan Masyarakat Illiniois, Ngozi Ezike, mengatakan ini adalah gangguan yang rumit.
"Ini adalah spektrum gangguan, dan dalam beberapa kasus, Anda akan mendapati seseorang yang menunjukkan gejala yang berkaitan dengan arteri koroner. (Tapi) terkadang tidak," jelas Ezike.
Namun, kondisi ini tidak terjadi pada semua anak-anak yang positif terinfeksi virus corona.
"Tampaknya ada respons yang tertunda terhadap infeksi Covid pada anak-anak ini," ungkap Arditi.
Baca Juga: Marak Jualan Surat Bebas Covid-19 di Internet, Pembeli Harus Lewat WA
Burns percaya lebih banyak kasus akan muncul karena Covid-19 dapat memengaruhi lebih banyak orang. Ini adalah kondisi yang langka, tetapi konsekuensi yang jarang terjadi akan terlihat lebih banyak atau sering ketika jutaan orang mulai terinfeksi.
"Kita dapat mengira bahwa masing-masing episentrum akan melihat kelompok-kelompok dengan kasus ini muncul kira-kira empat atau enam minggu kemudian. Masuk akal jika sindrom ini pertama kali muncul di New York karena New York memiliki wabah terbesar dan paling parah, diikuti New Jersey, dan sayangnya, Boston," lanjut Burns.
Berita Terkait
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- Struktur Kuno Muncul Kembali di Sendang Kamulyan Trenggalek
- 7 Sunscreen Flek Hitam untuk Usia 50 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Link Live Streaming Portugal vs Kongo: Panggung Sesungguhnya CR7?
Terkini
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat
-
Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance
-
Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum
-
Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis Redakan Wasir dengan Cara Alami
-
Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun
-
Dokter Bantah Mitos Obat Kolesterol dan Diabetes Rusak Ginjal, Ini Penjelasannya
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut