Suara.com - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sudah dinyatakan sembuh dari infeksi virus corona Covid-19 dan kembali beraktivitas normal.
Tetapi, Menhub Budi Karya mengaku dirinya sempat mengalami penurunan fungsi otot setelah menjalani perawatan virus corona Covid-19 dengan alat bantu ventilator.
"Saya baru tahu Covid-19 setelah hari kedua, Dokter Basuki sampaikan menjalani masa recovery, sekarang ini harus ada proses lanjutan karena beberapa fungsi tubuh belum berjalan," cerita Menhub Budi dalam acara live Instagram @tempodotco, Sabtu (16/5/2020).
Menhub Budi Karya pun menceritakan kondisinya usai perawatan virus corona Covid-19. Lantas, Menhub Budi Karya mengaku fungsi ototnya belum bekerja maksimal.
"Pikiran dan otak sudah berjalan baik, secara fisik memang terlihat normal tapi dilihat secara parsial fisik belum boleh. Setelah dianalisa otot kaki, paha, betis saya itu belum normal jadi harus dilatih lagi," lanjutnya.
Seorang dokter di China telah mempelajari sejumlah efek jangka panjang dari infeksi virus corona Covid-19. Dalam beberapa kasus yang dilansir oleh The Sun, sejumlah pasien corona Covid-19 yang sembuh perlu perawatan kerusakan paru-paru, jantung, masalah kehilangan otot hingga gangguan psikologis.
Ternyata tingkat keparahan gejala virus corona Covid-19 yang dialami oleh pasien akan memengaruhi efek samping jangka panjang.
Dalam hal ini, orang yang terinfeksi virus corona Covid-19 dalam kondisi parah bisa mengalami kerusakan sejumlah organ hingga komplikasi lain.
Adapun kehilangan fungsi otot dan tungkai salah satu efek jangka panjang dari virus corona Covid-19, sama halnya yang dialami oleh Menhub Budi Karya.
Baca Juga: Hari Hipertensi Sedunia, Orang Berisiko Harus Ikuti 5 Cara Pencegahannya!
Selain hilangnya fungsi otot, virus corona Covid-19 juga bisa menyebabkan nyeri otot. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dilansir oleh NPR, telah menganalisis hampir 56 ribu kasus peradangan akibat virus corona Covid-19.
Menurut laporan itu, banyak infeksi virus yang bisa menyebabkan nyeri otot akibat respons peradangan terhadap virus. Dalam kasus ini sendiri, hampir 15 persen pasien corona Covid-19 mengalami nyeri otot.
Dr. David Aronoff , kepala Divisi Penyakit Menular di Vanderbilt University Medical Center mengatakan pilek atau flu musim dingin memang biasanya menyebabkan nyeri otot. Karena ini tidak musim dingin, seseorang perlu mewaspadai bila mengalami nyeri otot.
"Kami tahu bahwa nyeri toto bisa dikaitkan dengan virus corona Covid-19. Kondisi itu juga sangat masuk akal," kata Aronoff.
Bahkan Aronoff juga menambahkan kelelahan atau kelemahan otot sebagai efek dari virus corona Covid-19. Tapi, kelemahan otot ini bukan termasuk gejala corona Covid-19 yang menonjol, karena beberapa orang mengalaminya tanpa hasil positif.
Berita Terkait
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- 6 Sepatu Puma Wanita yang Lagi Diskon 55 Persen di Toko Resmi, Ada Model Lari hingga Sneaker
Pilihan
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
Terkini
-
Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf
-
Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining
-
Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI