Suara.com - Pandemi virus corona Covid-19 tidak hanya memicu ketakutan dan kecemasan, tetapi juga agoraphobia. Kondisi ini membuat orang tidak hanya takut dengan ruang terbuka, tetapi juga situasi yang dirasa tidak aman.
Shirley, wanita 57 tahun asal Skotlandia ini takut akan gelombang kedua virus corona Covid-19. Situasi ini pun menyebabkan kecemasan besar di benaknya.
Shirley yang sehari-hari suka bergaul, menghabiskan waktu luang bertemu dengan teman hingga menonton acara musik. Kini, kehidupannya berubah drastis akibat aturan tetap di rumah aja selama pandemi virus corona Covid-19.
Kondisi ini juga mengubah karakter Shirley yang suka berpegian menjadi takut keluar rumah dan berinteraksi dengan orang lain.
Shirley khawatir bila pemerintah setempat belum menangani pandemi virus ini secara tuntas dan memastikan keselamatan masyarakatnya.
"Saya menjadi sangat cemas, terutama jika tetangga datang bertamu dan berbicara. Padahal sebelum ini saya selalu berhubungan dengan banyak teman. Kecemasan membuatku tidak bisa melakukan semuanya lagi," kata Shirley dikutip daru Metro.co.uk.
Tak hanya Shirley, banyak pula orang yang mengalami kecemasan serupa setelah pandemi virus corona Covud-19. Bahkan para ahli khawati bahwa pandemi virus ini bisa menyebabkan krisis agorophobia.
Profesor Paul Gilbert, seorang psikolog klinis di Uni Derby dilansir oleh Metro.co.uk, bahwa semua aspek pandemi virus corona Covid-19 ini bisa memperburuk atau memicu agoraphobia.
"Kondisi sekarang ini sangat mungkin meningkatkan kecemasan di seluruh populasi, terutama bagi orang yang mengalami ketakutan ekstrem dan intens," jelas Paul.
Baca Juga: Lagi, Seorang Dokter di Wuhan Meninggal akibat Terpapar Virus Corona
Paul menjelaskan beberapa orang mungkin takut terkena virus dan memerlukan perawatan di rumah sakit yang artinya mengalami kecemasan kesehatan.
Beberapa orang lainnya mungkin takut mengontaminasi virus ke orang lain yang disebut dimensi kompulsif obsesif. Beberapa lainnya juga mungkin khawatir orang lain memandangnya sebagai orang yang terinfeksi virus yang disebut dimensi kecemasan sosial.
"Beberapa orang mungkin juga lebih agorafobik sebagai bagian dari depresi. Jadi ada corak baru di sekitar agoraphobia yang belum pernah kita lihat sebelumnya," jelasnya.
Paul pun mengatakan nasihat untuk semua orang tetap waspada hanya akan memicu kecemasan bagi mereka yang rentan terhadap masalah kesehatan mental.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi HP 5G Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan!
- Polisi Ungkap Fakta Baru Kematian Lula Lahfah, Reza Arap Diduga Ada di TKP
- 5 Rekomendasi HP Memori 256 GB Paling Murah, Kapasitas Lega, Anti Lag Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Jalan Rusak Parah, Warga Kulon Progo Pasang Spanduk Protes: 'Ini Jalan atau Cobaan?'
- 5 Mobil Bekas 80 Jutaan dengan Pajak Murah, Irit dan Nyaman untuk Harian
Pilihan
-
10 Sneakers Putih Ikonik untuk Gaya Kasual yang Tak Pernah Ketinggalan Zaman, Wajib Punya
-
Bursa Saham Indonesia Tidak Siap? BEI Klarifikasi Masalah Data yang Diminta MSCI
-
Menperin Pastikan Industri Susu Nasional Kecipratan Proyek MBG
-
MSCI Melihat 'Bandit' di Pasar Saham RI?
-
Harga Emas di Palembang Nyaris Rp17 Juta per Suku, Warga Menunda Membeli
Terkini
-
Super Flu: Ancaman Baru yang Perlu Diwaspadai
-
3D Echocardiography: Teknologi Kunci untuk Diagnosis dan Penanganan Penyakit Jantung Bawaan
-
Diam-Diam Menggerogoti Penglihatan: Saat Penyakit Mata Datang Tanpa Gejala di Era Layar Digital
-
Virus Nipah Sudah Menyebar di Sejumlah Negara Asia, Belum Ada Obatnya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Punya Layanan Bedah Robotik Bertaraf Internasional
-
Hari Gizi Nasional: Mengingat Kembali Fondasi Kecil untuk Masa Depan Anak
-
Cara Kerja Gas Tawa (Nitrous Oxide) yang Ada Pada Whip Pink
-
Ibu Tenang, ASI Lancar: Kunci Menyusui Nyaman Sejak Hari Pertama
-
Kisah Desa Cibatok 1 Turunkan Stunting hingga 2,46%, Ibu Kurang Energi Bisa Lahirkan Bayi Normal
-
Waspada Penurunan Kognitif! Kenali Neumentix, 'Nootropik Alami' yang Dukung Memori Anda