Suara.com - Penularan virus corona Covid-19 bisa terjadi di mana pun, termasuk di pesawat. Karena itu, penumpang pesawat perlu mewaspadai penularan virus corona Covid-19 ketika perjalanan.
Meskipun banyak bandara sudah membatasi hingga menutup penerbangan. Tapi, Anda perlu mengatahui proses penularan virus corona di pesawat.
Pada dasarnya, virus corona Covid-19 bisa menyebar melalui cairan pernapasan tubuh saat bersin atau batuk. Tetesan cairan ini bisa jatuh di permukaan seperti gagang pintu hingga meja.
Bila Anda menyentuh permukaan yang terkontaminasi tetesan cairan tersebut, Anda bisa saja terinfeksi virus corona bila menyentuh mulut, hidung atau mata tanpa mencuci tangan.
Tapi, tetesan ini tidak dipengaruhi oleh udara di ruangan. Melainkan tetesan akan jatuh dan hanya mengontaminasi di tempat terdekatnya.
Menurut Emily Landon, direktur medis pengawasan antimikroba dan pengendalian infeksi di Universitu of Chicago Medicine dilansir dari National Geographic UK, edoman rumah sakit untuk influenza mendefinisikan paparan berada dalam jarak enam kaki dari orang yang terinfeksi selama 10 menit atau lebih.
"Artinya, waktu dan jarak kontaminasi itu sangat penting," kata Landon.
Dalam hal ini, tetesan cairan pernapasan ini bisa menyebar di permukaan seperti kursi pesawat, meja dan baki.
Tapi, lamanya waktu tetesan itu bisa mengontaminasi tergantung pada tetesan dan permukaannya. Mulai, tetesannya berupa lendir atau air liur, permukaannya berpori aau tidak berpori.
Baca Juga: Dokter: Demam Usai Imunisasi Hanya Terjadi Pada 25 Persen Anak
Karena, virus bisa bervariasi secara dramatis dalam lamanya waktu mereka bertahan di permukaan dari hitungan jam hingga bulan.
Ada pula bukti bahwa virus pernapasan dapat ditularkan melalui udara dalam partikel kecil dan kering yang dikenal sebagai aerosol.
Tetapi, menurut Arnold Monto, profesor epidemiologi dan kesehatan masyarakat global di University of Michigan, mengatakan itu bukan mekanisme utama penularan.
"Virus bisa menular melalui udara atau aerosol, bila virus bertahan hidup di lingkungan itu selama waktu yang lama hingga mengering dan terbawa angin," katanya.
Namun, Arnorld berpendapat bahwa virus lebih suka di tempat lembap dan kemampuannya menginfeksi akan memudar setelah kering terlalu lama.
Pesawat bisa menjadi tempat penyebaran virus, karena seseorang mungkin saja tidak hanya duduk selama penerbangan. Mereka bisa berjalan ke kamar mandi, memakai fasilitas toilet, membuang sampah, memegang fasilitas umum di pesawat yang bisa terkontaminasi virus dan menyebarkannya ke orang lain.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ganjil Genap Jakarta Resmi Ditiadakan Mulai Hari Ini, Simak Aturannya
- Bacaan Niat Puasa Ramadan Sebulan Penuh, Kapan Waktu yang Tepat untuk Membacanya?
- Menkeu Purbaya Pastikan THR ASN Rp55 Triliun Cair Awal Ramadan
- LIVE STREAMING: Sidang Isbat Penentuan 1 Ramadan 2026
- Pemerintah Puasa Tanggal Berapa? Cek Link Live Streaming Hasil Sidang Isbat 1 Ramadan 2026
Pilihan
-
Persib Bandung Gugur di AFC Champions League Meski Menang Tipis Lawan Ratchaburi FC
-
KPK akan Dalami Dugaan Gratifikasi Jet Pribadi Menag dari Ketum Hanura OSO
-
7 Fakta Viral Warga Sumsel di Kamboja, Mengaku Dijual dan Minta Pulang ke Palembang
-
Hasil Investigasi: KPF Temukan Massa Suruhan di Aksi Penjarahan Rumah Sahroni Hingga Uya Kuya
-
Munculnya Grup WhatsApp KPR-Depok hingga Pasukan Revolusi Jolly Roger Sebelum Aksi Demo Agustus 2025
Terkini
-
Cuma Pakai Dua Jari, Dokter Ungkap Cara Deteksi Sakit Jantung dari Raba Nadi
-
Bukan Cuma Blokir, Ini Kunci Orang Tua Lindungi Anak di Ruang Digital
-
Sedih! Indonesia Krisis Perawat Onkologi, Cuma Ada Sekitar 60 Orang dari Ribuan Pasien Kanker
-
Lebih dari Sekadar Sembuh: Ini Rahasia Pemulihan Total Pasien Kanker Anak Setelah Terapi
-
Edukasi dan Inovasi Jadi Kunci Tingkatkan Kesadaran Kesehatan Gigi dan Mulut Lintas Generasi
-
Multisport, Tren Olahraga yang Menggabungkan Banyak Cabang
-
Tantangan Pasien PJB: Ribuan Anak dari Luar Jawa Butuh Dukungan Lebih dari Sekadar Pengobatan
-
Gen Alpha Dijuluki Generasi Asbun, Dokter Ungkap Kaitannya dengan Gizi dan Mental Health
-
Indonesia Krisis Dokter Jantung Anak, Antrean Operasi Capai Lebih dari 4.000 Orang
-
Bandung Darurat Kualitas Udara dan Air! Ini Solusi Cerdas Jaga Kesehatan Keluarga di Rumah