Suara.com - Merayakan Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli 2020 ini bisa menjadi refleksi nasib anak di Indonesia. Sebuah penelitian dari SMERU Research Institute tahun 2019 sempat menyatakan, betapa langkanya anak dari keluarga miskin untuk sukses.
Sayangnya, menurut Badan Pusat Statisti (BPS), data per September 2019 penduduk miskin di Indonesia masih mencapai 24,79 juta orang. Dengan penelitian SMERU dan data kemiskinan, maka angka anak-anak yang akan kesulitan keluar dari garis kemiskinan juga masih cukup tinggi.
Melalui The Conversation, Rendy A. Diningrat, seorang penliti SMERU Research Institute mencoba menjelaskan, mengapa anak-anak miskin di Indonesia bisa tetap mewarisi kemiskinan keluarganya di masa depan.
Pada penelitian berbeda yang ia lakukan pada tahun 2015 menjadi salah satu penjelasan.
"Penelitian kami tahun 2015 dilakukan di dua kelurahan yang berbeda di Jakarta, Makassar,dan Surakarta," catat Rendy A. Diningrat pada The Conversation.
"Riset ini melibatkan setidaknya 250 anak laki-laki dan perempuan dari keluarga miskin yang berusia 6-17 tahun di ketiga kota tersebut," tambahnya.
Pada penelitiannya, ia ingin meneliti perspektif anak-anak secara langsung tentang kemiskinan. Hasilnya, anak-anak mampu mendiskripsikan kompleksitas kemiskinan yang mereka alami.
Menurut Diningrat, anak-anak telah menyadari kemiskinan yang mereka alami ketika bercerita tentang kondisi rumah, lingkungan, hingga fasilitas.
"Dengan kata lain, perbedaan kesejahteraan orangtua menyebabkan kondisi ekonomi anak-anak mereka tidak berada pada garis awal yang sejajar (dengan anak yang tidak miskin)," catat Diningrat.
Baca Juga: Begini Cara Ajarkan Konsep Uang Kepada Anak Menurut Perencana Keuangan
Artinya, anak-anak ini merasa memiliki garis start yang berbeda dari anak-anak dari keluraga berasa.
Pada penelitiannya, Diningat menyatakan bahwa anak-anak dari orangtua yang memiliki aset atau sumber daya akan mendapat peluang peningkatan kesejahteraan dan kesuksesan di masa depan.
Menurutnya, anak-anak yang lahir dari keluarga berada berpeluang medapatkan berbagai fasilitas pendidikan non formal. Pendidikan jenis ini biasanya mendukung keterampilan dan capaian pendidikan formal.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
- 4 Rekomendasi Sampo Urang-Aring untuk Menghitamkan dan Menyuburkan Rambut
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien
-
Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi
-
Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan
-
Heboh Wanita Bekasi Tunjukkan Wajah Khas Gagal Ginjal, Waspadai Ciri-cirinya!