Suara.com - Kebanyakan orang akan merasa jijik dan risih dengan air seni atau air kencing meskipun itu miliknya sendiri. Tapi tidak dengan Jan Schunemann (26), lelaki asal Jerman yang meminum urinenya dengan dalih untuk kesehatan mental dan fisiknya.
Mengutip Metro, Rabu (9/9/2020), lelaki yang berprofesi sebagai pelatih kebugaran ini tidak hanya meminum air seninya, tapi juga mengoleskan di kulitnya. Kebiasaan ini berawal dari dirinya yang selalu ingin mencoba teknik baru dan tidak biasa untuk meningkatkan kesehatannya.
Di usia 14 tahun, Jan mulai belajar kickboxing, lalu dilanjutkan dengan seni bela diri kuno Kalaripayattu atau yang dikenal dengan Kalari. Ia dituntut harus disiplin, punya rasa hormat, kuat fisik dan mental, sabar, rendah hati, dan mencari kedamaian.
Dalam perjalanan mempelajari bela diri ini, pada 2017, Jan menemukan terapi urine Shivambu Kalpa. Terapi ini menunjukkan bahwa mengonsumsi urine bermanfaat untuk kesehatan dan mendorong tubuh untuk memulihkan dirinya sendiri.
Gagasan itu ia terima sepenuh hati, dan sejak itulah ia mulai mengonsumsi urine 3 hingga 7 liter per hari. Bahkan tidak hanya lewat mulut, urine itu ia telan melalui mata, hidung, telinga hingga kulitnya, seolah air kencingnya adalah produk perawatan kulit.
Jan kemudian mengklaim bahwa melakukan terapi urine membuat dirinya tidak pernah jatuh sakit, punya banyak energi, dan mendapatkan bentuk terbaik dari fisiknya. Dalam sehari Jan mengaku hanya butuh tidur 4 jam sehari, karena merasa memiliki energi yang sangat besar. Meminum air seni juga membantunya sembuh dari depresi.
"Saya baru saja mencobanya dan langsung merasakan manfaat luar biasa sehingga saya ingin terus melanjutkannya," aku Jan. Melalui terapi ini, ia seolah mampu untuk menyelami setiap sudut jalan pikirannya, membuatnya menemukan realitas lebih dalam yang biasanya hanya bisa didapat dari terapi yoga.
"Shivambu Kalpa adalah obat yang sempurna karena mengandung semua hal yang dibutuhkan tubuh manusia. Ditambah terapi ini juga gratis dan mudah untuk mendapatkannya," sambung Jan.
Urine yang Jan minum biasanya bukanlah urin segar, tapi Jan akan membiarkan urin itu mengendap beberapa lama di dalam gelas. Melalui metode itue kata Jan, akan meningkatkan manfaat dari urine itu sendiri.
Baca Juga: Akibat Olahraga di Rumah, Banyak Wanita Alami Inkontinensia Urine!
"Rasanya berubah setiap saat karena tubuh akan selalu menyeimbangkan diri dan menyaringnya setiap saat. Juga bergantung pada seberapa banyak Anda terhidrasi, seberapa bersih tubuh, apa yang dimakan, dipikirkan, dan emosi spiritual yang dimiliki," terang Jan.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Anak Aktif Rentan Lecet? Ini Tips Perlindungan Luka agar Cepat Pulih dan Tetap Nyaman
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia