Suara.com - Sophia Hajnorouzi terlihat seperti anak lainnya, sehat dan ceria. Namun di baliknya, ternyata gadis kecil ini memiliki kelainan genetik langka yang disebut alkaptonuria, atau penyakit tulang hitam.
Karena kondisinya, kesehatan gadis kecil ini kemungkinan akan terpengaruh pada usia sekitar 18 tahunan.
Kondisi Shopia pertama kali diketahui saat ia berusia 8 bulan, ketika ibunya, Josie, menemukan ada sesuatu yang salah dengan putri kecilnya itu, urine Shopia berubah warna saat dilihat di kain atau handuk.
"Urine-nya akan menodai kain menjadi coklat atau merah. Aku tidak pernah memerhatikannya di popok, karena sering berubah-ubah dan aku langsung membuangnya," jelas Josie, dilansir Mirror.
Ia menambahkan, warnanya akan terlihat jelas saat terkena udara. Kemudian, Josie mencarinya di internet dan menemukan kata kunci pencarian 'penyakit urine hitam'.
"Saya memfotonya dan menunjukkan kepada dokter umum kenalan saya," sambungnya.
Dokter mencurigai bahwa Shopia terkena infeksi sehingga meresepkan antibiotik. Hingga pada suatu waktu muncul ruam di kulitnya.
Ia kembali menghubungi dokter di Rumah Sakit Great Ormond Street, dan didiagnosis dengan alkaptonuria (AKU) pada 2017 silam.
Setelah berbulan-bulan menunggu hasil tes urine Shopia keluar, terkonfirmasi bahwa gadis berusia empat tahun itu memang menderita kelainan genetik langka.
Baca Juga: Minum Urine 7 Liter Sehari, Lelaki Ini Mengaku Tak Pernah jatuh Sakit
Penyakit ini membuat tubuh Shopia berhenti memecah asam homogentisic (HGA), senyawa kimia yang secara alami diproduksi selama proses pencernaan makanan.
Ketika HGA menumpuk, seiring waktu akan menyebabkan tulang dan tulang rawan menjadi hitam serta rapuh, membuatnya dapat terserang osteoartritis di usia dini. Kondisi ini juga menyebabkan komplikasi kesehatan lain, seperti masalah jantung dan ginjal.
Salah satu tanda paling awal dari kondisi ini adalah noda hitam, seperti yang Shopia alami, karena HGA menyebabkan urine menjadi hitam saat terpapar udara selama beberapa jam.
Tetapi, jika tanda ini tidak terdeteksi atau terabaikan, gangguan bisa tidak diketahui hingga dewasa karena biasanya tidak ada gejala lain yang muncul sampai orang tersebut mencapai 20-an hingga awal 30-an.
Tanda halus lainnya bisa berupa tulang rawan telinga berwarna hitam kebiruan, kotoran telinga coklat kemerahan dan bintik coklat atau abu-abu pada bagian putih mata. Keringat orang tersebut juga dapat mengubah warna pakaian.
Saat ini tidak ada pengobatan atau penyembuhan khusus untuk AKU, meski dokter umumnya menggunakan obat nitisinone sebagai pengobatan 'off-label' untuk mengurangi tingkat HGA dalam tubuh.
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak
-
Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026
-
Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS