Suara.com - Dibanding faktor genetik atau keturunan yang hanya 5 hingga 10 persen, risiko kanker payudara 90 hingga 95 persennya disebabkan faktor lingkungan dan gaya hidup.
Data ini diungkap Dokter Spesialis Penyakit Dalam sub spesialis Hematologi-Onkologi Medik, Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD-KHOM, FACP yang juga menemukan berbagai faktor bawaan atau yang tidak bisa diubah menambah risiko pertumbuhan kanker di payudara.
"Faktor risiko yang tidak bisa diubah, usia tentunya, payudara yang padat sehingga untuk di mammogram aja sulit, usia menstruasi yang amat dini tidak bisa kita ubah," ujar Prof. Aru dalam diskusi bersama Yayasan Kanker Indonesia dan Kalbe beberapa waktu lalu.
Alasan kepadatan payudara meningkatkan risiko kanker, ini karena saat discan menggunakan mammogram, jaringan kanker banyak tertutupi oleh jaringan penahan payudara (fibrosa), dan jaringan kelenjar penghasil susu (lobus) sehingga kanker tidak terdeteksi.
Adapun risiko kanker payudara yang tidak bisa diubah menurut Prof. Aru, sebagai berikut:
- Usia
- Payudara padat
- Usia menstruasi lebih awal
- Riwayat kanker di keluarga
- Usia menopause lebih cepat
- Memiliki mutasi 2 gen kanker BRCA 1 dan BCRA 2
Risiko kanker payudara yang bisa diubah, sebagai berikut:
- Merokok dan alkohol berkontribusi 30 persen.
- Makanan baik dan tidak baik, berkontrisbusi 30 hingga 35 persen.
- Polusi dan radiasi di udara, hanya 1 persen.
- Pekerjaan yang meningkatkan risiko karena paparan bahan kimia, 2 persen.
- Pernah mendapatkan terapi hormon yang bisa dicegah dan diatur, 18 hingga 20 persen.
- Penyakit infeksi kronik, seperti kanker hati, hepatitis, kanker serviks, dan sebagainya sebesar 18 hingga 20 persen.
"Data juga menunjukkan, perempuan yang melahirkan di usia jauh lebih muda, lebih berisiko kanker payudara, pemakaian alat kontrasepsi, pemakaian hormon dengan tujuan medis yang lain," tutup Prof. Aru.
Berita Terkait
-
Pengembangan Vaksin Dalam Negeri Kian Maju, Perlindungan terhadap HPV Jadi Fokus
-
Legenda Liverpool Kenny Dalglish Jalani Perawatan Kanker
-
Liverpool Berduka, Kenny Dalglish Berjuang Melawan Kanker di Usia 75 Tahun
-
Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- Daftar Pertanyaan Sensus Ekonomi 2026: Petugas BPS Datangi Rumah, Tanya Gaji dan Usaha
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi