Suara.com - Cairan di dalam tubuh mengandung beberapa komponen, seperti sel, protein, gula, dan elektrolit, yang bersumber dari makanan serta minuman yang dikonsumsi.
Elektrolit adalah mineral penting yang memiliki muatan listrik yang akan membantu tubuh menjalankan fungsi-fungsinya, terutama dalam membawa impuls saraf dan kontraksi otot.
Komponen ini bisa didapatkan dari beragam makanan sehat seperti produk susu, buah-buahan, dan sayuran.
Tapi sayangnya, banyak orang yang tidak sadar saat ia mengalami ketidakseimbangan elektrolit dalam kehidupan sehari-hari.
Dilansir dari Insider, ketidakseimbangan elektrolit terjadi ketika rasio elektrolit terhadap air di dalam tubuh berubah.
Gejalanya meliputi sulit bernapas, demam, kebingungan, edema atau pembengkakan anggota tubuh, serta denyut jantung cepat.
Ketidakseimbangan elektrolit dapat memiliki konseskuensi jangka panjang, seperti gangguan tulang dan sistem saraf. Ketidakseimbangan elektrolit terjadi saat tubuh mengalami dehidrasi atau kelebihan cairan.
1. Dehidrasi
Ketika tubuh dehidrasi, tubuh akan kehilangan lebih banyak air daripada elektolitnya. Ini menyebabkan lonjakan konsentrasi elektrolit aliran darah.
Baca Juga: Atasi Ketidakseimbangan Hormon, Cobalah Konsumsi 5 Makanan Ini
Ada tiga faktor untuk kondisi ini, yaitu saat berkeringat berlebihan, diare, dan setelah muntah.
Mereka yang berolahraga atau bekerja di luar ruangan ketika cuaca panas selama beberapa jam harus ekstra rajin untuk tetap terhidrasi dan mengisi bahan bakar tubuh dengan benar.
Tanda bahwa seseorang dehidrasi adalah urine gelap atau sangat sedikit, kelelahan, dan pusing atau kesemutan.
2. Overhidrasi
Meski air minum penting untuk kesehatan, terlalu banyak mengonsumsinya juga dapat menyebabkan overhidrasi.
Orang yang overhidrasi dapat mengalami muntah, sakit kepala, kejang atau kram, dan urine berwarna bening.
Gejala yang jarang tetapi termasuk parah misalnya kebingungan mental, kejang, dan ketidaksadaran, yang terkadang dapat menyebabkan koma.
"Kelebihan cairan bisa menimbulkan konsekuensi yang sangat serius, dan dalam kasus yang ekstrim, otak bahkan bisa mulai membengkak," kata Nancy Clark , MS, RD, CSSD, ahli gizi terdaftar di Texas.
Untuk mengatasinya, batasi konsumsi cairan setidaknya untuk beberapa hari.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- 5 HP dengan Kamera Telefoto Terbaik untuk Konten Media Sosial
- 3 HP Murah Samsung Terlaris Global Q1 2026: Mulai Sejutaan, Kamera Sudah OIS
Pilihan
-
Terbukti Korupsi! Immanuel Ebenezer 'Noel' Dijatuhi Hukuman 4,5 Tahun dan Denda Rp200 Juta
-
Purbaya Bantah Kabar Akan Dicopot dari Kursi Menteri Keuangan
-
Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
-
Wamen Imipas Silmy Karim Ditahan KPK, Terborgol Pakai Rompi Oranye Usai Drama Menyerahkan Diri
-
Mengejutkan! Ini Pesan Terakhir Wamen Imipas Silmy Karim Sebelum Dicari KPK Terkait OTT Imigrasi
Terkini
-
Jangan Anggap Sepele Payudara Nyeri Saat Menyusui, Mastitis Bisa Berujung Operasi Abses
-
Mengenal Rontgen Gigi 3D: Teknologi yang Bantu Diagnosis Lebih Akurat dan Cepat
-
World Milk Day 2026: Perjalanan Peternak Menjaga Kualitas Nutrisi Segelas Susu
-
2 Susu Kambing Etawa untuk Mendukung Pemenuhan Nutrisi Penderita Saraf Kejepit
-
Bukan Cuma Perempuan, Faktor Pria Capai 30 Persen Kasus Infertilitas di Indonesia
-
Ribuan Sekolah Bergerak, Kesadaran Membangun Budaya Hidup Sehat Kian Menguat
-
Bukan Sekadar Kenyang, Ahli Gizi Ingatkan Pentingnya Nutrisi Seimbang untuk Menjaga Kualitas Hidup
-
Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf
-
Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining
-
Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem