Suara.com - Dalam kasus pengujian virus corona yang berisiko tinggi, hasil positif palsu meski tidak dinilai lebih buruk dari negatif palsu, tetap saja akan memberi dampak buruk. Tes Covid-19 yang memberi hasil positif palsu, yang secara keliru mengidentifikasi orang sehat sebagai orang yang terinfeksi virus, dapat menimbulkan konsekuensi serius, terutama di wilayah dengan kasus Covid-19 langka. Apa konsekuensinya?
Berita lainnya adalah mengenai hasil studi dari Israel yang menunjukkan bahwa konsumsi produk susu dan daging bisa berkaitan dengan peningkatan risiko kanker. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan molekuler langsung antara konsumsi produk susu dan daging dengan kanker. Waduh, apa yang harus dilakukan kalau begitu?
Simak berita selengkapnya melalui link di bawah ini.
1. Hasil Positif Palsu pada Tes Virus Corona Memiliki Dampak Serius
Dalam kasus pengujian virus corona yang berisiko tinggi, positif palsu meski tidak dinilai lebih buruk dari negatif palsu, tetap saja akan memberi dampak buruk.
Positif palsu, yang secara keliru mengidentifikasi orang sehat sebagai orang yang terinfeksi virus, dapat menimbulkan konsekuensi serius, terutama di wilayah dengan kasus Covid-19 langka.
2. Studi Israel: Konsumsi Produk Susu dan Daging Terkait dengan Risiko Kanker
Sebuah studi dari Israel menunjukkan bahwa konsumsi produk susu dan daging bisa berkaitan dengan peningkatan risiko kanker. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan molekuler langsung antara konsumsi produk susu dan daging dengan kanker.
Baca Juga: Hasil Positif Palsu pada Tes Virus Corona Memiliki Dampak Serius
Melansir dari Healthshots, hubungan tersebut dapat menjelaskan tingginya insiden kanker di antara mereka yang mengonsumsi produk susu dan daging merah dalam jumlah besar. Efek dari daging dan produk susu serupa dengan hubungan antara kolesterol tinggi dan peningkatan risiko penyakit jantung.
3. Pasien Virus Corona Tanpa Gejala Lebih Cepat Kehilangan Antibodi
Pasien virus corona Covid-19 tanpa gejala atau asimptomatik akan kehilanga antibodi lebih cepat dibandingkan pasien dengan gejala.
Temuan oleh Imperial College Londo dan firma riset pasar Ipsos Mori juga menunjukkan hilangnya antibodi lebih lambat pada usia 18-24 tahun dibandingkan mereka yang berusia 75 tahun ke atas.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 5 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp200 Ribuan
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien
-
Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi