Suara.com - Penggunaan antibiotik yang terus menerus secara berlebihan pada hewan ternak, dikhawatirkan menimbulkan masalah bakteri super atau "superbug" yang resistensi antimikroba (Antimicrobial Resistance/AMR).
Team Leader FAO ECTAD Indonesia, Luuk Schoonman, mengatakan resistensi antimikroba bisa menyebabkan gangguan produksi pada sektor peternakan, dan kesehatan masyarakat secara global melalui rantai makanan.
“Hal ini dapat membahayakan ketahanan pangan terutama produktivitas sektor pertanian, peternakan dan budidaya perikanan dalam menyediakan sumber pangan bagi masyarakat,” ujar Schoonman dalam pernyataannya secara virtual, Rabu (18/11/2020).
Menurutnya, jika seseorang mengonsumsi daging hewan ternak yang menggunakan antibiotik secara berlebihan, orang tersebut berisiko terkena penyakit. Contoh umum bakteri yang ditularkan melalui makanan adalah Salmonella, Campylobacter dan E. Coli.
“Aspek lain lagi adalah residu antibiotik pada daging. Ketika memberikan antibiotik pada hewan ternak, penggunaannya harus dihentikan dalam jangka waktu tertentu sebelum ternak dipotong atau susunya diperah,” kata dia.
Lebih lanjut, Schoonman mengingatkan praktik pemberian antibiotik secara berlebihan dapat menjadi penyebab terbentuknya resistensi antibiotik.
“Penggunaan antibiotik pada peternakan berkaitan dengan meningkatnya jumlah bakteri dan itu berdampak pada kesehatan manusia. Penting juga dicatat bahwa bagi seseorang kini sulit diobati akibat resistensi antibiotik,” tegasnya.
Dia juga menerangkan antibiotik dalam daging hewan ternak seperti ayam setelah dimasak juga belum tentu hilang. Karena, itu tergantung dengan lamanya waktu pemasakan serta tergantung pada stabilitas suhu panasnya.
“Sekali lagi, kandungan antibiotik pada daging bukanlah isu utama dalam resistensi antibiotik, tapi bakteri yang terdapat di daging lah yang perlu diperhatikan. Dan, ini juga berkaitan dengan pengolahan daging tersebut saat sebelum dimakan,” bebernya.
Baca Juga: Peneliti AS: Waspada saat Gunakan Azithromycin untuk Mengobati Covid-19
Karena itu, dia menuturkan penting sekali memperbaiki keamanan biologis dan menjaga kebersihan industri peternakan untuk mengurangi penyebaran semua penyakit baik dari bakteri resisten maupun tidak resisten.
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo Indomaret 12-18 Maret: Sirup Mulai Rp7 Ribuan, Biskuit Kaleng Rp15 Ribuan Jelang Lebaran
- 5 Mobil Bekas Irit Bensin Pajak Murah dengan Mesin 1000cc: Masa Pakai Lama, Harga Mulai 50 Jutaan
- 26 Kode Redeem FF 13 Maret 2026: Bocoran Rilis SG2 Lumut, Garena Bagi Magic Cube Gratis
- 45 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 Maret 2026: Kesempatan Raih ShopeePay dan Bundel Joker
- Siapa Syekh Ahmad Al Misry? Dikaitkan Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Sesama Jenis 'SAM'
Pilihan
-
Korut Tembakkan 10 Rudal Tak Dikenal ke Laut Jepang, Respons Provokasi Freedom Shield
-
Amukan Si Jago Merah Hanguskan 10 Rumah dan 2 Lapak di Bintaro
-
Teror Beruntun di AS: Sinagoge Diserang, Eks Tentara Garda Nasional Tembaki Kampus
-
KPK OTT Bupati Cilacap, Masih Berlangsung!
-
Detik-Detik Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Podcast di YLBHI
Terkini
-
Deteksi Dini dan Kebijakan Ramah Lingkungan: Solusi Terpadu untuk Menangani Penyakit Ginjal
-
Membangun Benteng Kesehatan Keluarga: Pentingnya Vaksinasi dari Anak hingga Dewasa
-
Pentingnya Dukungan Asupan Nutrisi untuk Mendukung Perkembangan Anak Usia Sekolah
-
Rahasia Mengapa Kepemimpinan Perempuan Jadi Kunci Sukses Kesehatan Ibu dan Anak di Indonesia
-
Siap-Siap Lari Sambil Menjelajahi Pesona Heritage dan Kuliner di Jantung Jawa Tengah
-
Time is Muscle: Pentingnya Respons Cepat saat Nyeri Dada untuk Mencegah Kerusakan Jantung
-
Jaga Gula Darah Seharian, Penderita Diabetes Wajib Atur Pola Makan
-
Menjaga Hidrasi Saat Puasa, Kunci Tetap Bugar di Tengah Aktivitas Ramadan
-
Puasa Ramadan Jadi Tantangan bagi Penderita Diabetes, Begini Cara Mengelolanya
-
Kulit Sensitif dan Rentan Iritasi, Bayi Butuh Perawatan Khusus Sejak Dini