Suara.com - Diplomat Amerika Serikat dahulu pernah menemukan adanya kasus serangkaian penyakit neurologis misterius di Kuba. Menurutnya, kemungkinan penyakit ini disebabkan oleh energi gelombang mikro.
Dalam laporan pada akhir 2016 lalu, orang yang bekerja di kedutaan Amerika di Havana, Kuba, mulai mengalami gejala aneh, seperti mendengar suara keras disertai rasa sakit di satu atau kedua telinga.
Penderita juga mengalami telinga berdeging, masalah penglihatan, vertigo, dan kesulitan kognitif, menurut laporan tersebut.
Pada tahun-tahun berikutnya, orang yang bekerja di konsulat Amerika Serikat di Guangzhou, China, mengalami gejala yang sama. Kasus lainnya terjadi di Rusia dan negara lain.
Penyakit misterius yang dinamai 'Sindrom Havana' ini pada sebagian penderitanya menjadi kronis dan melemahkan. Sayangnya, dilansir Live Science, penyakit misterius ini belum terpecahkan.
Departemen Luar Negeri AS telah meminta komite medis dan ahli lainnya untuk meninjau kasus tersebut. Kini, mereka menemukan bukti ilmiah yang menunjukkan kemungkinan penyebabnya dan memberikan rekomendasi untuk menyelidiki kasus di masa depan.
Komite mengatakan gejalanya tidak seperti gejala lain yang sudah ada dalam literatur medis umum. Mereka mempertimbangkan sejumlah penyebab, dari energi frekuensi radio, paparan bahan kimia, penyakit menular, hingga masalah psikologis.
Mereka menyimpulkan, gejala dan permulaan penyakitnya konsisten dengan efek energi frekuensi rasio (RF) yang diarahkan dan berdenyut.
"Studi yang terbit dalam literatur terbuka lebih dari setengah abad lalu dan beberapa dekade setelahnya oleh sumber Barat dan Soviet memberi dukungan tidak langsung untuk kemungkinan mekanisme ini," kata David Relman, ketua komite.
Baca Juga: Unggah Video Syur, Putra Bilyuner Rusia Bikin Haas Kecewa
Energi frekuensi radio, yang meliputi gelombang radio dan gelombang mikro, merupakan sejenis radiasi berenergi rendah.
Mekanisme lain dapat memperkuat beberapa efek dan menyebabkan beberapa gejala yang lebih kronis, seperti pusing terus-menerus, gangguan yang melibatkan sistem vestibular (bagian telinga bagian dalam dan otak yang membantu mengontrol keseimbangan dan gerakan mata), dan kondisi psikologis.
Namun, laporan ini tidak menyimpulkan bahwa energi frekuensi radio terjadi akibat serangan disengaja. Tetapi laporan komite dengan kuat menunjukkan bahwa hal itu mungkin terjadi.
Mengingat energi tersebut diarahkan dan berdenyut, yang artinya energi tersebut ditargetkan, bukan hasil dari sumber energi alami sekitar.
Terlebih lagi, beberapa penderita melaporkan gejala yang tiba-tiba, seperti sensasi nyeri, tekanan, serta suara, datang dari arah tertentu atau terjadi di tempat tertentu.
Tapi komite tidak menuliskan siapa yang mungkin berada di balik serangan ini. Namun, badan intelijen AS menganggap Rusia sebagai tersangka utamanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Mobil Bekas Daihatsu untuk Lansia yang Murah, Aman dan Mudah Dikendalikan
- Apa Perbedaan Sepatu Lari dan Sepatu Jalan Kaki? Ini 6 Rekomendasi Terbaiknya
- 5 Mobil Bekas Toyota Pengganti Avanza, Muat Banyak Penumpang dan Tahan Banting
- 27 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 3 Januari 2026: Ada Arsenal 110-115 dan Shards
- iQOO 15R Lolos Sertifikasi Resmi, Harga Diprediksi Lebih Terjangkau
Pilihan
-
Dipecat Manchester United, Begini Statistik Ruben Amorim di Old Trafford
-
Platform Kripto Indodax Jebol, Duit Nasabah Rp600 Juta Hilang Hingga OJK Bertindak
-
4 HP RAM 12 GB Paling Murah Januari 2026, Pilihan Terbaik untuk Gaming dan Multitasking
-
Eksplorasi Museum Wayang Jakarta: Perpaduan Sejarah Klasik dan Teknologi Hologram
-
4 Rekomendasi HP Murah RAM 8 GB Baterai Jumbo, Aman untuk Gaming dan Multitasking
Terkini
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan
-
Kesehatan Gigi Keluarga, Investasi Kecil dengan Dampak Besar