Suara.com - Pemerintah Korea Selatan membatasi pertemuan pribadi masyarakat, setelah negara tersebut melaporkan lebih dari 1.000 kasus Covid-19 dalam sehari.
Dilansir ANTARA, pertemuan pribadi dibatasi hanya maksimal empat orang. Pemberlakukan pembatasan ini dilakukan di Seoul dan wilayah sekitarnya.
Korea Selatan telah mengalami lonjakan kasus infeksi virus corona yang berkepanjangan selama gelombang terbaru wabah Covid-19, yang menyebabkan peningkatan tajam angka kematian.
Korsel melaporkan 1.020 kasus virus corona baru pada Minggu tengah malam (3/1), sehingga total kasus Covid-19 di negara itu menjadi 64.264, dengan 981 kematian, menurut Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA).
Hanya ada 657 kasus Covid-19 yang dilaporkan selama akhir pekan. Seorang pejabat kesehatan Korsel mengatakan bahwa gelombang ketiga infeksi corona sekarang ini sedang diatasi.
Aturan jarak sosial yang diperpanjang yang diberlakukan di Seoul dan daerah sekitarnya termasuk pembatasan di gereja, restoran, kafe, resor ski dan tempat lainnya.
Lebih dari 60 persen kasus Covid-19 di Korsel berasal dari Seoul, provinsi Gyeonggi dan kota Incheon, dengan wabah klaster massal berpusat di sekitar panti-panti jompo dan penjara.
Perdana Menteri Chung Sye-kyun menyerukan upaya habis-habisan untuk mempersiapkan program vaksinasi Covid-19 di Korsel.
"KDCA harus benar-benar siap untuk seluruh proses saat vaksin tiba - (mulai dari) distribusi, penyimpanan, inokulasi dan tindak lanjutnya," kata Chung dalam rapat pemerintah.
Baca Juga: Saking Dinginnya Korea, Peralatan Makan Ini Membeku saat Ditinggal Kerja
Dia juga meminta kementerian kesehatan, keselamatan dan transportasi terkait untuk membantu mempercepat proses vaksinasi agar tidak menghadapi masalah seperti yang terjadi di Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa.
Korsel berencana untuk memulai vaksinasi pada Februari, yang dimulai dengan petugas kesehatan dan orang-orang yang rentan berada pada urutan pertama.
Namun, pemerintah Korsel telah dikritik soal kecepatan jadwal vaksinasi di negara itu sehubungan dengan vaksinasi yang sedang berlangsung di Amerika Serikat dan Uni Eropa.
Berita Terkait
-
Donald Trump Mencak-mencak Minta Dibantu di Selat Hormuz, Pejabat Korsel Masih Cuek Bebek
-
Korut Tembakkan 10 Rudal Tak Dikenal ke Laut Jepang, Respons Provokasi Freedom Shield
-
Film We, Everyday: Tiga Sahabat dan Segitiga Cinta yang Menggemaskan
-
Viral! Alat Vital Dicincang Istri Gegara Selingkuh, Suami Ini Minta Hakim Ringankan Hukuman
-
Number One: Film Melankolis Lembut dengan Akhir yang Menenangkan Hati
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
- Pakai Paspor Belanda saat Perpanjang Kontrak 2025, Status WNI Dean James Bisa Gugur?
- Pajaknya Nggak Bikin Sengsara: Cek 5 Mobil Bekas Bandel di Bawah 70 Juta untuk Pemula
Pilihan
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
Terkini
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi
-
Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!
-
Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?
-
Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung
-
Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman
-
Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi
-
Cedera Lutut hingga Bahu Paling Banyak Dialami Atlet dan Penggemar Olahraga
-
Jelang Lebaran, Korban Banjir Aceh Tamiang Dibayangi ISPA hingga Diare: Imunitas Harus Diperhatikan
-
Deteksi Dini dan Kebijakan Ramah Lingkungan: Solusi Terpadu untuk Menangani Penyakit Ginjal