Suara.com - Bayi berusia kurang dari 24 bulan dianggap aman untuk mendapat vaksin tifoid polisakarida konjugasi Vi-DT untuk mencegah demam tifoid.
Keamanan vaksin telah dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan BUMN Farmasi PT BioFarma.
Dokter spesialis anak dr. Bernie Endyarni Medise, SpA(K), MPH mengatakan vaksin tifoid polisakarida konjugasi Vi-DT terbukti aman dan dapat menimbulkan imunogenisitas yang melibatkan respons imun bergantung sel T pada bayi dan anak usia 6 sampai 24 bulan.
Kata Bernie, untuk menghasilkan respons imun yang baik pada bayi kurang dari 24 bulan, diperlukan vaksin yang dapat mengonversi respons imun tidak bergantung sel T (T-cell independent response) menjadi respons imun bergantung sel T (T-cell dependent response).
"Respons imun bergantung sel T akan mengaktivasi sel T dan hasil akhirnya membuat antibodi yang lebih kuat," papar Bernie dalam ujian sidang promosi gelar doktor yang disiarkan virtual Fakultas Kedokteran Universita Indonesia, Kamis (7/1/2021).
Dalam penelitian, PT BioFarma mendapatkan teknologi dari the International Vaccine Institute (IVI) dan mengadopsi proses produksi vaksin di laboratorium BioFarma untuk menghasilkan vaksin tifoid polisakarida konjugasi Vi-DT.
Bernie menyampaikan, vaksin yang diteliti itu ditambahkan protein karier Diphtheria Toxoid atau toksoid difteri yang diharapkan menghasilkan respons imun bergantung sel T.
Uji klinis vaksin tersebut pertama kali dilakukan di Filipina dan Indonesia. Di Indonesia uji klinis fase I selesai pada 2018 dan terbukti vaksin aman untuk orang dewasa usia 18–40 tahun juga anak usia 2–5 tahun.
Sedangkan uji klinis vaksin untuk usia anak kurang dari 24 bulan pertama kali dilakukan pada penelitian fase II.
Baca Juga: MUI Gelar Sidang Pleno Tentukan Kehalalan Vaksin Sinovac Jumat Besok
Penelitian itu menggunakan sebagian subjek penelitian fase II yang berusia 6-24 bulan di Puskesmas Kecamatan Jatinegara dan Puskesmas Kecamatan Senen pada tahun 2018-2019. Sebanyak 57 subjek mengikuti penelitian hingga selesai.
"Kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) berupa reaksi lokal tersering adalah nyeri yang menghilang dalam 48 jam. Reaksi sistemik tersering adalah demam yang mayoritas berintensitas ringan. Tidak terdapat KIPI serius hingga penelitian selesai," kata Bernie.
Hasil penelitian menunjukan, vaksin tifoid konjugasi Vi-DT terbukti menimbulkan serokonversi 100 persen pada usia 6-12 bulan dan 96,8 persen pada usia 12-24 bulan.
Juga bisa meningkatkan kadar IgG anti-Vi dan GMT secara berbeda bermakna baik secara keseluruhan usia, maupun berdasarkan kelompok usia 6-12 bulan dan 12-24 bulan.
Menurut Bernie, penelitian BioFarma juga membuktikan adanya keterlibatan respons imun bergantung sel T yang ditandai adanya peningkatan secara bermakna nilai persentase CD4 yang mengekspresikan sitokin IFN g dan IL-2 baik secara keseluruhan maupun berdasarkan kelompok usia.
"Hal ini membuktikan bahwa vaksin tifoid polisakarida konjugasi Vi-DT terbukti mampu menstimulasi respon imun bergantung sel T mulai usia yang sangat muda yaitu 6 bulan," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Iran Sakit Hati Kapal dan Minyak Miliknya Rp 1,17 triliun Dilelang Indonesia
- 5 Mobil Listrik Paling Murah di 2026 untuk Harian, Harga Mulai Rp60 Jutaan
- 5 Shio yang Diprediksi Beruntung dan Sukses pada 27 Maret 2026
- 7 Sepatu Lari yang Awet untuk Pemakaian Lama, Nyaman dan Tahan Banting
- 63 Kode Redeem FF Max Terbaru 27 Maret 2026: Klaim Bundel Panther, AK47, dan Diamond
Pilihan
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
Terkini
-
Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya
-
2 Anak Harimau Mati karena Panleukopenia, Dokter Hewan: Lebih Mematikan dari Kucing Domestik
-
Transformasi Digital di Rumah Sakit: Bagaimana AI dan Sistem Integrasi Digunakan untuk Pasien
-
Standar Internasional Teruji, JEC Kembali Berjaya di Healthcare Asia Awards
-
Dokter Muda di Cianjur Meninggal Akibat Campak, Kemenkes Lakukan Penyelidikan Epidemiologi
-
Madu Herbal untuk Daya Tahan Tubuh: Kenali Manfaat dan Perannya bagi Kesehatan
-
Kenali Manfaat Injeksi Vitamin C untuk Daya Tahan dan Kesehatan Kulit
-
Sering Sakit Kepala? Ini Ciri-Ciri yang Mengarah ke Tumor Otak
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi