Suara.com - Gangguan makan, seperti anoreksia dan bulimia, diperkirakan dialami oleh lebih dari 16 juta orang di seluruh dunia. Gangguan itu telah dianggap sebagai kondisi kesehatan mental yang serius.
Karena dalam banyak kasus, asupan makanan tidak terkendali, berlebihan, sampai makan sebanyak-banyaknya, atau secara bertahap dikurangi menjadi jumlah yang lebih kecil dan lebih kecil untuk memungkinkan seseorang menurunkan berat badan.
Psikologi dari Universitas Liverpool John Moores dan Sofia Sacchetti, Valentina Cazzato, mengatakan bahwa kebanyakan orang dengan kelainan makan mengalami distorsi tubuh. Kondisi itu yang membuat orang dengan gangguan makan akan melihat dirinya di cermin berbeda dengan apa yang dilihat orang lain.
"Sangat sering, seseorang dengan kelainan makan akan menganggap tubuhnya terlalu gemuk atau terlalu tidak sempurna, meskipun mereka tampak kurus bagi orang lain," kata Valentina dikutip dari Channel News Asia.
Penelitian juga menemukan bahwa orang yang terkena gangguan makan berjuang untuk memahami sinyal internal tubuhnya. Informasi tubuh seperti merasa lapar atau kenyang, atau apakah jantungnya berdetak dengan cepat, yang biasanya dirasakan oleh orang secara tidak sadar. Tetapi pada orang yang mengalami gangguan makan sinyal itu menjadi tumpul dan diabaikan.
Sebaliknya, ada kecenderungan untuk lebih fokus pada penampilan tubuh. Orang dengan gangguan makan akan sering melihat tubuhnya untuk memeriksa tanda-tanda kenaikan berat badan.
"Salah satu pendekatan pengobatan yang populer untuk orang dengan gangguan makan mencoba untuk secara langsung mengatasi gangguan citra tubuh. Terapi paparan cermin melibatkan pasien yang mengenakan pakaian terbuka di depan cermin. Mereka kemudian diminta untuk mendeskripsikan tubuhnya dengan cara yang netral dan tidak menghakimi, tujuannya adalah agar seiring waktu reaksi ini akan berkurang," papar Valentina.
Ia menambahkan, penelitian telah menunjukkan bahwa perawatan tersebut dapat mengurangi tekanan, pikiran negatif, dan ketidakpuasan tubuh.
Penelitian terbaru yang dilakukan Valentina bersama timnya juga menunjukkan bahwa terapi sangat penting. Tetapi dalam beberapa kasus, terapi paparan cermin pada perempuan dengan gangguan makan juga dapat memperburuk beberapa gejala.
Baca Juga: Pandemi Covid-19 Tingkatkan Kasus Gangguan Makan di Inggris
"Untuk penelitian kami, kami ingin mengetahui lebih lanjut tentang bagaimana persepsi tubuh dipengaruhi ketika orang dengan gejala gangguan makan melihat bayangan cermin mereka," katanya.
Timnya kemudian merekrut perempuan sehat yang memiliki kekhawatiran tentang penampilan atau berat badan. Mereka diminta untuk melaporkan apakah bisa merasakan sentuhan yang sangat lemah yang terjadi saat perangkat kecil yang menempel di pipi mereka bergetar.
Para oerempuan tersebut melakukan tugas itu sambil melihat foto wajah mereka sendiri yang asli atau yang diacak, atau foto wajah wanita lain di layar komputer.
Saat yang sama, tim peneliti juga memantau gairah fisiologis dengan mencatat perubahan aktivitas listrik di permukaan kulit. Hal itu memungkinkan untuk memeriksa tingkat stres dan respons emosional para objek penelitian saat melihat foto-foto.
"Banyak penderita anoreksia memiliki kecenderungan untuk fokus pada satu bagian tubuh daripada melihat tubuh mereka secara keseluruhan. Kami menemukan bahwa wanita yang sangat mengkhawatirkan penampilan atau berat badan, lebih baik dalam mendeteksi sentuhan saat mereka diperlihatkan wajahnya sendiri. Tapi kami juga menemukan tingkat kesusahan mereka juga lebih besar," tuturnya.
Di sisi lain, perempuan dengan kekhawatiran rendah tentang berat badan atau penampilan lebih mampu mendeteksi sentuhan saat melihat wanita lain atau gambar yang diacak.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
Pilihan
-
Cek Fakta: Yaqut Cholil Qoumas Minta KPK Periksa Jokowi karena Uang Kuota Haji, Ini Faktanya
-
Kontroversi Grok AI dan Ancaman Kekerasan Berbasis Gender di Ruang Digital
-
Hasil Akhir: Kalahkan Persija, Persib Bandung Juara Paruh Musim
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
Terkini
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial