Suara.com - Pakar kesehatan China meminta Norwegia dan negara lain untuk menghentikan penggunaan vaksin Covid-19 berbasis messenger RNA (mRNA), seperti yang diproduksi Pfizer, untuk para lansia.
Menurut mereka, keamanan vaksin tersebut belum pasti, mengingat adanya kasus kematian 23 lansia di Norwegia setelah mendapat vaksin, lapor Global Times.
Seorang ahli imunologi China mengatakan vaksin mRNA menggunakan teknologi baru yang belum pernah digunakan dalam skala besar untuk pencegahan penyakit menular, dan keamanannya belum dikonfirmasi untuk penggunaan skala besar pada manusia.
Mereka juga mengatakan insiden kematian di Norwegia membuktikan bahwa kemanjuran vaksin mRNA Covid-19 tidak sebaik yang diharapkan.
Hingga Kamis (14/1/2021), Norwegia telah melaporkan 23 kematian sehubungan dengan vaksin.
"Sejauh ini, 13 di antaranya telah diidentifikasi. Efek samping yang umum mungkin telah menyebabkan penyakit parah pada orang lanjut usia yang lemah," kata Badan Obat Norwegia di situs resminya.
Semua kematian terjadi pada pasien lanjut usia di panti jompo. Semuanya berusia di atas 80 tahun dan beberapa di antaranya berusia di atas 90 tahun.
Sejauh ini Norwegia telah menggunakan dua vaksin Covid-19, yakni Comirnaty dari Pfizer/BioNTech, dan Moderna.
Kedua vaksin tersebut telah dikembangkan dengan teknologi mRNA dan telah menerima persetujuan sementara di UE.
Baca Juga: CEK FAKTA: Benarkah Jokowi Kejang dan Meninggal setelah Disuntik Vaksin?
Norwegia meluncurkan kampanye vaksinasi massal pada akhir Desember, dengan warga tertua dan penghuni panti jompo divaksinasi dahulu, termasuk mereka yang berusia di atas 85 tahun.
Badan Obat Norwegia mengakui bahwa studi yang menjadi dasar untuk untuk persetujuan sementara vaksin tersebut hanya melibatkan sangat sedikit lansia di atas 85 tahun, dan hanya sedikit yang diketahui tentang bagaimana efek samping memengaruhi kelompok usia tersebut.
"Kami berasumsi bahwa efek sampingnya sebagian besar akan sama pada orang tua seperti pada mereka yang berusia di atas 65 tahun," kata badan tersebut.
Pakar China mengatakan insiden kematian harus diselidiki dengan hati-hati untuk memahami apakah kematian itu disebabkan oleh vaksin atau penyakit komorbid.
Ahli virologi China dari Universitas Wuhan, Yang Zhanqui, menjelaskan bahwa zat beracun dapat berkembang selama proses vaksinasi mRNA, yang artinya keamanan vaksin tidka dapar sepenuhnya terjamin.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Tips Memilih Susu Berkualitas, Nutrisionis: Perhatikan Sumber dan Kandungannya
-
Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif