Suara.com - Pandemi Covid-19 membuat pelayanan kesehatan penyakit lain jadi terhambat. Termasuk pengobatan untuk pasien HIV-AIDS. Sementara itu, orang dengan HIV-AIDS juga termasuk kelompok orang yang rentan terinfeksi Covid-19.
“Di masa pandemi Covid-19 ini, ODHA menjadi salah satu kelompok yang lebih rentan terkena Covid-19. Hal ini terjadi karena adanya penurunan pelayanan kesehatan untuk pasien HIV/AIDS," kata Kasubdit HIV/AIDS dan Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS) Nurjannah, SKM., M.Kes., dalam konferensi pers bersama Good Doctor, Kamis (28/1/2021).
Menanggapi kondisi itu, menurut Nurjannah, pelayanan telemedicine bisa jadi solusi bagi ODHA agar tetap rutin melakukan pengobatan kesehatan.
Karenanya, ia apresiasi Kesepahaman antara United Nations Development Programme (UNDP) dan Aliansi Telemedika Indonesia (ATENSI), melalui Good Doctor, untuk pengembangan platform telemedis di Indonesia dan peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas.
"Kami melihat telemedis menjadi solusi yang bagus dalam mendukung ODHA mendapatkan layanan kesehatan,"
National Project Manager for Health Governance Initiative UNDP Arry Lesmana Putra memastikan pelaksanaan program telemedicine untuk ODHA telah mempertimbangkan prinsip hak asasi manusia guna mendukung program pencegahan dan perawatan HIV/AIDS yang efektif dan memberikan lingkungan yang nyaman bagi ODHA.
"Kami melihat peran telemedis sangat penting dalam mewujudkan hal tersebut. Maka dari itu, sebagai proyek pilot dari kolaborasi ini kami bermaksud mengembangkan layanan HIV lewat telemedis Good Doctor dan juga telemedis lainnya," katanya.
Managing Director Good Doctor Technology Indonesia Danu Wicaksana mengatakan layanan telemedicine itu bisa didapatkan oleh ODHA dengan mengunduh aplikasi Good Doctor secara gratis lewat ponsel pintar.
Ia mengklaim, layanan telemedicine itu bagi ODHA itu jadi yang pertama di Indonesia.
Baca Juga: Videografis: Tips Fokus Bekerja di Rumah Selama Masa PPKM
“Kami merasa bangga dipercaya oleh UNDP dan ATENSI untuk memberi kemudahan bagi pasien HIV/AIDS dalam menjangkau akses kesehatan melalui aplikasi yang dapat diunduh secara gratis. Kami juga berharap nantinya layanan ini disambut baik dan dimanfaatkan seluas-luasnya oleh pasien HIV-AIDS di Indonesia," ucapnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
'Labbaik Ya Hussein', TV Iran Siarkan Lagu Perang, Siap Balas Serangan AS dan Israel
-
Trump Ancam Hancurkan Industri Rudal dan Angkatan Laut Iran
-
Iran Persiapkan Serangan Balasan ke Israel dan AS
-
Israel Bombardir Kantornya di Teheran, Keberadaan Imam Ali Khamenei Masih Misterius
-
Tak Cuma Teheran, Amerika dan Israel Juga Serang Kota Lain di Iran
Terkini
-
Presisi dan Personalisasi: Arah Baru Perawatan Kanker di Asia Tenggara
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia