Suara.com - Lebih dari 2,3 juta orang telah meninggal dunia akibat virus COVID-19 sejak dimulainya pandemi. Namun, perawatan yang lebih baik di ruang perawatan intensif menyebabkan tingkat kematian semakin turun.
Pada Juni 2020, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa obat steroid deksametason mengurangi risiko kematian secara pada pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit sebesar 17 persen.
Penelitian lain menemukan bahwa obat awalnya dinilai memberi efek baik, termasuk hydroxychloroquine, azithromycin, dan remdesivir, ternyata tidak memiliki manfaat yang jelas untuk mengurangi kematian.
Melansir dari Medial News Today, dokter menemukan bahwa terapi cairan dan oksigen yang lebih baik membantu manajemen pembekuan darah. Pembekuan darah merupakan salah satu karakter utama infeksi Covid-19 yang mematikan.
Karena itu, perbaikan dalam proses perawatan menyebabkan penurunan tajam dalam angka kematian pada awal terjadinya pandemi. Namun menjelang akhir tahun, tingkat penurunan ini tampak melandai.
Tinjauan dan meta-analisis studi observasi sebelumnya menemukan bahwa kematian karena COVID-19 di unit perawatan intensif menurun hampir sepertiga pada akhir Maret 2020 dan akhir Mei 2020, dari sekitar 60 persen menjadi 42 persen.
Untuk memperbarui temuan mereka hingga akhir bulan September 2020, para peneliti mengidentifikasi 52 studi observasi dan daftar pasien terbaru. Didapatkan ada total 43.128 pasien yang dirawat di ICU dengan diagnosis COVID-19.
"Setelah meta-analisis pertama kami tahun lalu menunjukkan penurunan besar angka kematian (dalam perawatan intensif) dari COVID-19 dari Maret hingga Mei 2020, analisis terbaru ini menunjukkan bahwa penurunan tingkat kematian antara Juni dan Oktober 2020 melandai dan tidak berubah," ungkap peneliti, dalam jurnal Anaesthesia, ditulis Minggu (14/2/2021).
Menurut analisis yang ditemukan, tingkat kematian pasien dengan perawatan intensif COVID-19 sekisar 30-40 persen di sebagian besar wilayah. Namun ada pula laporan kematian yang berbeda dengan rata-rata dunia.
Baca Juga: Pemerintah: Komorbid dan Penyintas Covid-19 Juga Bakal Dapat Vaksin
Sebuah laporan tunggal dari Victoria, Australia, menunjukkan angka kematian hanya 11 persen. Namun sebaliknya, temuan peneliti yang mencakup empat negara di Timur Tengah, seperti Iran, Kuwait, Yaman, dan Israel, melaporkan tingkat kematian diagnosa Covid-19 rata-rata sebesar 62 persen.
Dari sejumlah temuan tersebut, ditemukan bahwa perbedaan angka kematian di berbagai wilayah disebabkan oleh tiga hal, yakni kemampuan fasilitas kesehatan yang berbeda-beda, kriteria untuk dirawat di ICU, dan data statistik yang tidak akurat.
Terakhir, para peneliti juga membahas kemungkinan mutasi virus Corona yang bisa mempercepat penularan dan program vaksinasi yang telah berjalan di sejumlah negara.
Dua faktor ini bisa menjadi penentu apakah angka kematian akan meningkat di tahun 2021, atau bahkan semakin turun.
Berita Terkait
-
Efek Domino Pandemi Bikin Harga Mobil Bekas Gagal Turun
-
Menkes Pastikan Risiko Ebola di Indonesia Rendah, Penularannya Tak Semudah Covid-19
-
IHSG Hancur Lebur Seperti Era COVID-19, Padahal Tak Sedang Pandemi
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Pakar Medis Belanda Menjamin Hantavirus Bukan Ancaman Pandemi Baru Seperti COVID-19
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak
-
Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern
-
Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua
-
Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan
-
Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!