Suara.com - Anak yang lahir dengan kelainan jantung bawaan berisiko tinggi akan mengalami pertumbuhan yang terganggu. Baik berat badan, tinggi bada, dan status gizi menjadi tidak sesuai dengan usianya.
Dokter spesialis anak konsultasi nutrisi dan penyakit metabolik DR. Dr. Tinuk A Meilany. Sp.A (K). mengatakan, penyebab gangguan pertumbuhan itu disebabkan banyak faktor.
"Sangat multifaktor, apakah ada potensi dari pertumbuhan bawaannya sendiri. Misalnya dengan beberapa kelainan bawaan kemudian juga dipengaruhi keparahan penyakit jantung, apakah ada sesak atau baik-baik saja," jelas dokter Tinuk dalam webinar online, Minggu (14/2/2021).
Anak dengan kelainan jantung umumnya tidak memiliki fisik yang kuat seperti anak normal. Termasuk juga pada kemampuan tubuhnya dalam menyerap nutrisi makanan. Sehingga terjadi malabsorpsi atau gangguan penyerapan.
Dokter Tinuk menjelaskan, malabsorpsi itu bisa menyebabkan anak lebih banyak mengeluarkan makanan lewat buang air atau juga mengakibatkan sembelit.
"Itu semua akan mengganggu penyerapan makanan dan hasil akhirnya mempengaruhi status pertumbuhan gizi," ujarnya.
Tetapi, masalah pertumbuhan gizi itu tidak akan mempengaruhi keputusan dokter melakukan operasi pengobatam kelainan jantung yang dialami anak. Sehingga, dokter Tunik mengatakan, anak harus dioperasi jika sudah dijadwalkan, bagaimana pun kondisi tubuhnya.
"Jadi kita semua harus dari awal tahu, kita akan mempersiapkan dari awal. Karena dia harus menjalani pembedahan dan lagi pemberian nutrisi itu pemberiannya sedikit berbeda dengan yang tidak memiliki kelainan jantung," kata Tunik.
Menurut dokter Tunik, masalah pertumbuhan memang menjadi konsekuensi dari kelainan jantung bawaan yang dialami anak. Karena itu, pentingnya mengetahui sejak dini penyakit kelaianan jantung bawaan pada anak dan memastikan asupan nutrisinya cukup.
Baca Juga: Sering Pusing saat Berdiri? Awas, Bisa Jadi Masalah Jantung!
"Nutrisi seimbang yang sesuai dan yang penting ketika sudah memulai bersama dokter memberikan nutrisi yang sesuai, jangan lupa monitor tumbuh kembangnya. Baik sebelum melakukan terapi maupun sesudah terapi, dari awal. Bukan menunggu kalau akan operasi," terang dokter Tunik.
Berita Terkait
Terpopuler
- 9 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 9 HP Redmi RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan, Lancar Jaya Dipakai Multitasking
- Semurah Xpander Sekencang Pajero, Huawei-Wuling Rilis SUV Hybrid 'Huajing S'
- 5 Sepatu New Balance yang Diskon 50% di Foot Locker Sambut Akhir Tahun
- 5 Lem Sepatu Kuat Mulai Rp 3 Ribuan: Terbaik untuk Sneakers dan Bahan Kulit
Pilihan
-
Kutukan Pelatih Italia di Chelsea: Enzo Maresca Jadi Korban Ketujuh
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
-
In This Economy: Banyolan Gen Z Hadapi Anomali Biaya Hidup di Sepanjang 2025
-
Ramalan Menkeu Purbaya soal IHSG Tembus 9.000 di Akhir Tahun Gagal Total
-
Tor Monitor! Ini Daftar Saham IPO Paling Gacor di 2025
Terkini
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan
-
Kesehatan Gigi Keluarga, Investasi Kecil dengan Dampak Besar
-
Fakta Super Flu, Dipicu Virus Influenza A H3N2 'Meledak' Jangkit Jutaan Orang
-
Gigi Goyang Saat Dewasa? Waspada! Ini Bukan Sekadar Tanda Biasa, Tapi Peringatan Serius dari Tubuh
-
Bali Menguat sebagai Pusat Wellness Asia, Standar Global Kesehatan Kian Jadi Kebutuhan
-
Susu Creamy Ala Hokkaido Tanpa Drama Perut: Solusi Nikmat buat yang Intoleransi Laktosa
-
Tak Melambat di Usia Lanjut, Rahasia The Siu Siu yang Tetap Aktif dan Bergerak