Suara.com - Para peneliti sadar bahwa ada perbedaan dampak keparahan Covid-19 antara pria dan wanita. Pada awal Februari tahun lalu, mereka mengamati bahwa tampaknya pria jauh lebih mungkin meninggal daripada wanita.
Bukti ini pun terus berkembang. Misalnya dalam laporan The Sex, Gender and COVID-19 Project menunjukkan pria yang terinfeksi Covid-19 sebesar 20% lebih mungkin dirawat di rumah sakit, serta membutuhkan perawatan intensif.
Ahli imunologi di Heinrich Pette Institute, Hamburg, Marcus Altfeld, mengatakan hasil paling konsisten yang ditemukan adalah bahwa wanita cenderung meningkatkan respons imun yang lebih kuat terhadap infeksi virus daripada pria.
Dilansir The Scientist, perbedaan terlihat pada sel di dalam sistem kekebalan bawaan, yang cenderung merespons lebih cepat pada wanita terhadap rangsangan virus yang mengikat sel. Setelah dirangsang, sel akan mengeluarkan produksi molekul pensinyalan antivirus yang lebih besar.
Sel kekebalan yang mengandung reseptor 7 seperti tol (TLR7), protein yang mendeteksi dan merespons RNA untai tunggal dalam sitoplasma sel (virus corona adalah virus RNA), yakni sel dendritik plasmacytoid dari wanita menghasilkan lebih banyak interferon dalam menanggapi rangsangan potongan viral load daripada sel dari pria.
Interferon merupakan protein alami sebagai respon tubuh dalam melawan senyawa berbahaya, terutama infeksi virus.
Studi lain menemukan bahwa neutrofil, jenis sel darah putih paling melimpah di sistem kekebalan, tampaknya lebih responsif terhadap sinyal interferon jika diambil sampelnya dari wanita.
Ahli biologi di Sekolah Kesehatan Masyarakat Johns Hopkins Bloomberg, Sabra Klein, mengatakan respons imun yang diilustrasikan dalam studi-studi ini kemungkinan besar merupakan pedang bermata dua dari perspektif kesehatan.
Di satu sisi, peningkatan aktivasi kekebalan wanita dapat membantu membatasi jumlah virus dalam tubuh. Di sisi lain, hal ini kemungkinan menjadi predisposisi pada wanita terhadap penyakit yang berasal dari respons imun yang terlalu aktif.
Baca Juga: Puluhan Mahasiswa dan Santri di Cianjur Positif Corona
"Kekurangan dari kekebalan yang kuat ini adalah bahwa 80% dari semua pasien penyakit autoimun adalah wanita," kata Klein. Penyakit autoimun terjadi saat sistem kekebalan menyerang sel normal di dalam tubuh.
Wanita juga berisiko tinggi mengembangkan penyakit dalam beberapa infeksi virus yang didorong oleh interaksi sistem kekebalan. Misalnya, infeksi HIV, yang cepat berkembang menjadi AIDS pada wanita daripada pria.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
Terkini
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi
-
Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat