Suara.com - Pandemi Covid-19 diketahui juga berdampak pada kesehatan mental masyarakat. Selama pandemi, banyak masyarakat yang mengalami kecemasan bahkan hingga depresi lantaran salah satunya karena situasi yang tidak pasti.
Hal itu terungkap dari sebuah temuan yang mengatakan bahwa terjadi peningkatan layanan kunjungan kesehatan mental pada awal pandemi. Jumlah itu meningkat 7 persen selama periode awal pada tahun 2020, dibanding tahun sebelumnya.
Studi yang diterbitkan The Journal of Clinical Psychiatry pada 3 Maret memeriksa kunjungan pasien untuk diagnosis psikiatri. Peningkatan dalam kunjungan penggunaan zat naik 51 persen, gejala kecemasan naik 12 persen, gangguan bipolar naik 9 persen, dan gangguan psikotik naik 6 persen.
"Covid-19 telah menciptakan gangguan psikososial secara besar," ungkap Kathryn Erickson Ridout, MD, seorang psikiater di Kaiser, yang dilansir dari Healthshots.
Hal ini memengaruhi kemampuan orang untuk bekerja, bersosialisasi, dan berhubungan dengan orang lain, yang berdampak pada kesehatan mental. “Kami mampu meresponsnya dengan sistem telehealth yang kuat, untuk menjangkau pasien tersebut dan memberi mereka perawatan yang baik,” jelasnya.
Penelitian ini merupakan analisis observasi yang membandingkan 165.696 kontak pasien rawat jalan psikiatri, yaitu antara 9 Maret dan 31 Mei 2019 dengan 181.015, dengan meningkat sebesar 7 persen.
Para peneliti juga mengkonfirmasi pergeseran dari kunjungan pasien secara langsung, dengan peningkatan 264 persen kunjungan telepon dan video dari tahun sebelumnya.
Esti Iturralde, Ph.D, seorang ilmuwan riset Division of Research, mengungkap, pasien mengalami lebih banyak kesulitan dalam menghadapi pandemi, juga mencerminkan pasien yang memiliki hubungan dengan kecanduan obat-obatan.
Selain itu, hasil ini mencerminkan pasien mana yang nyaman dengan menjangkau perawatan lewat telehealth, yang terjadi selama beberapa bulan pertama pandemi.
Baca Juga: 6 Bukti Solid kalau Gebetanmu Telah Dewasa Secara Mental, Seperti Apa?
Dan untuk meningkatkan kunjungan secara virtual, disarankan melalui perawatan kolaboratif ke depannya. Seperti mendapat rujukan dari penyedia perawatan primer, juga dokter lain yang menemui pasien terkait masalah kesehatan fisik.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Apa yang Tahan Lama? Ini 5 Produk yang Bisa Awet hingga 12 Jam
- 5 Pemain Top Dunia yang Berpotensi Ikuti Jejak Layvin Kurzawa Main di Super League
- Pasca Penonaktifan, 3.000 Warga Kota Yogyakarta Geruduk MPP untuk Reaktivasi PBI JK
- 10 HP OPPO RAM 8 GB dari yang Termurah hingga Flagship 2026
- 4 Pilihan Smart TV 32 Inci Rp1 Jutaan, Kualitas HD dan Hemat Daya
Pilihan
-
Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus
-
Selamat Jalan 'Babeh' Romi Jahat: Ikon Rock N Roll Kotor Indonesia Tutup Usia
-
Sidang Adat Pandji Pragiwaksono di Toraja Dijaga Ketat
-
Ziarah Telepon Selular: HP Sultan Motorola Aura Sampai Nokia Bunglon
-
Ucap Sumpah di atas Alkitab, Keponakan Prabowo Sah Jabat Deputi Gubernur BI
Terkini
-
Lantai Licin di Rumah, Ancaman Diam-Diam bagi Keselamatan Anak
-
Zero-Fluoroscopy, Solusi Minim Risiko Tangani Penyakit Jantung Bawaan Anak hingga Dewasa
-
Olahraga Saat Puasa? Ini Panduan Lengkap dari Ahli untuk Tetap Bugar Tanpa Mengganggu Ibadah
-
Google dan Meta Dituntut Karena Desain Aplikasi Bikin Anak Kecanduan
-
Bergerak dengan Benar, Kunci Hidup Lebih Berkualitas
-
Direkomendasikan Para Dokter, Ini Kandungan Jamtens Tangani Hipertensi dan Kolesterol
-
Perubahan Iklim Bikin Nyamuk DBD Makin Ganas, Dokter: Kini Bisa Berulang 2 Tahunan
-
Mengenal Ultra Low Contrast PCI, Pendekatan Tindakan Jantung yang Lebih Ramah Ginjal
-
Bukan Sekadar Timbangan: Mengapa Obesitas Resmi Jadi Penyakit Kronis di 2026?
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD