Suara.com - Sejumlah penerima vaksin Covid-19 buatan Moderna diketahui mengalami efek samping berupa reaksi di kulit beberapa hari setelah disuntik. Dokter telah menuliskan laporan kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) itu dalam jurnal medis New England Journal of Medicine.
Dalam laporannya, dokter merinci 12 kasus reaksi kulit yang muncul sekitar empat hingga 11 hari setelah dosis pertama vaksin Moderna diberikan. Rata-rata orang mengalami pada hari kedelapan.
Sekitar setengah dari penerima vaksin juga mengalami reaksi kulit setelah pemberian dosis kedua, meskipun tidak terlalu parah.
Sebagian besar reaksi itu bisa diobati dengan antihistamin dan es, tetapi beberapa pasien memerlukan pengobatan steroid yang diresepkan baik dalam bentuk topikal atau pil.
Sebagian besar ruam kulit sembuh setelah empat hingga lima hari. Ruam yang terjadi dianggap tidak berbahaya tetapi dapat disalahartikan sebagai infeksi dan penggunaan antibiotik yang tidak perlu, tulis para dokter dalam laporannya.
"Dokter mungkin tidak siap untuk mengatasi reaksi lokal yang tertunda terhadap vaksin mRNA-1273. Mengingat peningkatan kampanye vaksinasi massal di seluruh dunia, reaksi ini cenderung menimbulkan kekhawatiran di antara pasien dan permintaan untuk evaluasi," tertulis dalam laporan tersebut, dikutip dari Fox News.
"Kami berharap surat ini mendorong pelaporan dan komunikasi tambahan mengenai karakteristik epidemiologi, penyebab, dan implikasi dari reaksi kulit yang tertunda ini. Karena informasi ini dapat menghilangkan kekhawatiran pasien, mendorong penyelesaian vaksinasi, dan meminimalkan penggunaan agen antibiotik yang tidak perlu," lanjutnya.
Reaksi kulit yang tertunda itu dicatat dalam terjadi pada kurang dari 1 persen penerima setelah dosis pertama dan hanya di 0,2 persen setelah mereka menerima dosis kedua. Para dokter mencatat bahwa semua penerima vaksin menerima dosis kedua.
Berbicara kepada Bloomberg, Kimberly Blumenthal, penulis utama makalah dan co-direktur program epidemiologi klinis di Rumah Sakit Umum Massachusetts di Boston, mendesak mereka yang mengalami reaksi kulit tertunda setelah dosis pertama untuk memastikan tetap menerima dosis vaksin kedua.
Baca Juga: 2 Kali Suntik Vaksin, Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah Positif COVID-19
"Tujuan kami adalah untuk menunjukkan betapa dramatisnya mereka, sementara pada saat yang sama tidak ada yang lebih parah dengan dosis 2. Begitu banyak pasien yang saya rawat ini mengkhawatirkan mereka. Apakah ini infeksi? Apakah ini berarti saya tidak dapat memiliki dosis 2? Apakah itu akan terjadi dengan dosis 2? (Reaksi kulit) Ini gangguan, tapi tidak berbahaya," kata Blumenthal.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
Terkini
-
Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa
-
Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif
-
Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak
-
Bisa Remisi, Ini Cara Mengendalikan Diabetes Tanpa Bergantung Obat
-
Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan
-
Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan
-
96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan
-
Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak
-
Dipicu Kebutuhan Tampil Percaya Diri, Kesadaran Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Naik Saat Ramadan
-
Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari